Jakarta, VIVA – Kolaborasi Denny Siregar dan sutradara Rudi Soedjarwo kembali menarik perhatian publik. Setelah Sayap-Sayap Patah(2022), keduanya kembali berada dalam satu semesta kreatif lewat film terbaru berjudul Tanah Runtuh. Kabar ini mencuat usai potongan visual dan isyarat emosional film tersebut dibagikan melalui media sosial pribadi serta akun Instagram @dennysiregarproduction.
Dalam unggahan yang dibagikan, rumah produksi memperkenalkan proyek ini secara singkat namun penuh makna. Melalui Instagram, mereka menuliskan judul film tersebut sebagai penanda awal perjalanan cerita, “Tanah Runtuh”. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
”Yang paling kita takutin bukan kepergian, tapi hari-hari setelahnya. Yang biasanya ada, pelan-pelan jadi rindu. Kita tetap berjalan, meski hati tertinggal. Karena ada cerita yang terlalu tulus untuk dilewati begitu saja,” tulis @dennysiregarproduction, dalam unggahannya, dikutip Jumat 16 Januari 2026.
Unggahan itu langsung memicu rasa penasaran. Banyak yang menilai kolaborasi kali ini akan menghadirkan nuansa berbeda dari proyek sebelumnya. Jika Sayap-Sayap Patah dikenal dengan tensi tinggi dan konflik besar, Tanah Runtuh justru disebut hadir dengan pendekatan yang lebih hening, personal, dan menyentuh sisi kemanusiaan.
Secara garis besar, film ini mengisahkan relasi emosional yang tumbuh di tengah keterbatasan. Para tokohnya sama-sama sadar bahwa mereka hidup dalam kondisi yang tidak ideal, namun justru dari kesadaran itu muncul keberanian untuk terus melangkah. Perjalanan yang mereka tempuh bukan sekadar soal perpindahan tempat, melainkan perjuangan mempertahankan harapan di dunia yang terasa tidak ramah.
Tanah Runtuh juga menempatkan sudut pandang anak-anak sebagai pusat cerita. Tanpa glorifikasi berlebihan, film ini dibangun melalui emosi yang intim dan manusiawi. Relasi antartokohnya digambarkan saling bergantung, saling menjaga, dan saling menguatkan, menjadikan kebersamaan sebagai satu-satunya pegangan saat segalanya terasa runtuh.
Tema kehilangan dan ketulusan menjadi benang merah yang kuat. Meski latar cerita dipenuhi keterbatasan dan rasa terancam, optimisme tetap hadir sebagai napas utama. Pulang dalam film ini tidak semata dimaknai secara fisik, tetapi juga sebagai upaya menjaga harapan, identitas, dan ikatan keluarga di tengah kondisi yang nyaris mustahil.


