Data Inflasi AS Redam Kekhawatiran Pasar, Bitcoin Langsung Menguat ke USD97 Ribu

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan sempat menembus level USD97 ribu atau sekitar Rp1,64 miliar (kurs Rp16.898/USD) sebelum terkoreksi tipis ke level USD95 ribu hingga USD96 ribu pada Kamis, 15 Januari 2026 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) Desember 2025 yang cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar.
 
Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), inflasi AS tercatat naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,7 persen secara tahunan. Sementara inflasi inti (core inflation rate) tetap terkendali di level 0,2 persen (mtm) dan 2,6 persen (yoy). Kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh sektor perumahan (shelter) yang naik 0,4 persen (mtm).
 
Dalam kondisi inflasi yang relatif stabil dan terkendali, bank sentral AS Federal Reserve umumnya memiliki ruang untuk mempertahankan, atau dalam kondisi tertentu menurunkan, suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
 
Vice President Indodax Antony Kusuma menilai stabilnya inflasi memberi ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.
 
"Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga," ungkap Antony seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 15 Januari 2026.
 
"Untuk saat ini pelaku pasar akan fokus menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed sambil mencermati data ekonomi berikutnya," ujar Antony menambahkan.
  Baca juga: Transaksi Kripto Tembus Rp482 Triliun di 2025, Minat Investor Domestik Jadi Sorotan

(Ilustrasi pergerakan harga aset kripto. Foto: dok KBI)
  Ditopang aksi pembelian institusi besar  
Selain faktor makro, penguatan bitcoin juga terjadi di tengah aksi pembelian oleh institusi besar. Strategy Inc mengumumkan penambahan kepemilikan bitcoin senilai lebih dari USD1 miliar di awal 2026, yang menjadi pembelian terbesarnya sejak pertengahan 2025.
 
Langkah tersebut memperkuat posisinya sebagai pemegang bitcoin korporasi terbesar dan turut memberi dorongan sentimen pasar, meskipun permintaan ritel global masih cenderung terbatas.
 
Menurut Antony, konsistensi akumulasi oleh institusi besar memperkuat pandangan bitcoin semakin dipandang sebagai aset dengan fundamental yang kuat.
 
"Institusi tidak masuk karena momentum sesaat. Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi," jelas dia.
 
Selain bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatatkan penguatan dalam periode yang sama. Ethereum, Solana, dan beberapa altcoin besar bergerak lebih agresif, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah tekanan makro mereda.
 
"Indodax turut mengimbau pelaku pasar untuk tetap mengedepankan manajemen risiko yang disiplin dan melakukan riset secara mandiri atau Do Your Own Research (DYOR), mengingat volatilitas masih menjadi karakter utama dalam pasar aset kripto," tegas Antony mengingatkan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perdana Menteri Sanae Takaichi Akan Bubarkan Majelis Rendah Jepang, Pemilu Dini Digelar Februari 2026
• 22 jam lalupantau.com
thumb
Hari Desa Nasional 2026: Generasi Muda Desa Ditekankan Sebagai Kunci Masa Depan Indonesia
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Kejutan di Bursa Transfer! Mantan Gelandang Arsenal Resmi Merapat ke Super League, Jon Toral Jadi Bagian Persik Kediri
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Cerita dan Alasan di Balik Penunjukan Michael Carrick Sebagai Pelatih Interim
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga CPO Turun Tertekan Geopolitik Iran dan Penerapan B50 di Indonesia
• 21 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.