JAKARTA, DISWAY.ID - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menegaskan sikapnya bahwa krisis lingkungan yang melanda berbagai wilayah Indonesi, termasuk banjir dan longsor di Sumatera.
Ketua DPP GMNI, Sujahri Somar, menegaskan bencana itu bukan sekadar peristiwa alam, melainkan akibat dari ketimpangan relasi antara manusia, kebijakan, dan alam.
BACA JUGA:Terkuak di Sidang, Ammar Zoni Chat ke Dokter Kamelia Bahas Plastik Klip Dikirim ke Rutan
BACA JUGA:Bukan Mitos! Dokter Klinik Steros Sebut Kejantanan Pria Ada Kaitannya dengan Hormon Testosteron dan Obesitas
Dalam momentum pengukuhan dan reposisi organisasi, GMNI menilai bahwa bencana ekologis hari ini adalah cermin dari pembangunan yang mengabaikan daya dukung
lingkungan dan keselamatan rakyat. Ketika eksploitasi dilegalkan atas nama investasi dan pertumbuhan, rakyat kecil selalu menjadi korban pertama dan terdengar paling terakhir.
GMNI menolak narasi bahwa bencana adalah takdir.
BACA JUGA:Ono Surono Jadi Pintu Masuk KPK Telusuri Dugaan Korupsi Bupati Bekasi ke Rekening Parpol
“Bencana adalah hasil dari pilihan,” tegas GMNI, Kamis, 15 Januari 2026.
Pilihan kebijakan yang menempatkan keuntungan di atas keberlanjutan, dan proyek di atas kemanusiaan.
Sebagai bentuk tanggung jawab nyata, GMNI menggalang dan menyalurkan donasi bagi korban terdampak bencana di Sumatera.
Bagi GMNI, solidaritas bukan aksi simbolik, melainkan bentuk paling awal dari perjuangan ideologis. Marhaenisme hidup ketika keberpihakan diwujudkan dalam tindakan.
GMNI menegaskan komitmennya untuk terus berdiri di sisi rakyat terdampak krisis lingkungan,bukan hanya saat bencana menjadi headline, tetapi juga dalam advokasi jangka panjang terhadap kebijakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
Reposisi GMNI hari ini menandai satu sikap jelas: krisis lingkungan adalah isu kemanusiaan dan keadilan sosial.
Dan dalam setiap krisis, GMNI memilih untuk hadir, berpihak, dan bertindak.
- 1
- 2
- »




