Awal tahun baru 2026 baru berjalan beberapa minggu, tapi sebagian dari kita mungkin sudah mulai sadar: resolusi yang disusun dengan penuh ambisi itu pelan-pelan terasa seperti beban yang mencekik. Bangun pagi tetap sebuah perjuangan, target hidup tak kunjung rapi, dan kalender yang tadinya penuh rencana mulai menyisakan banyak jeda yang membuat kita merasa bersalah.
Di titik ini, kita sering menghakimi diri sendiri. Kita merasa kurang disiplin, kurang ambisius, atau kurang hebat dibandingkan orang lain. Padahal, mungkin masalahnya bukan pada kita, melainkan pada standar dunia yang sudah keterlaluan.
Standar Sukses yang Terlalu BerisikKita hidup di zaman ketika menjadi “biasa-biasa saja” terasa seperti dosa besar. Setiap hari, algoritma media sosial mencekoki kita dengan narasi orang-orang yang terlihat luar biasa: kariernya melesat, bisnisnya ekspansi, produktivitasnya seolah bertenaga nuklir. Semua tampak on track, semua tampak menang.
Di tengah hiruk-pikuk itu, kita diam-diam bertanya: “Kalau hidupku begini-begini saja, apakah aku sebuah produk gagal?”
Budaya hari ini memaksa kita untuk selalu "tampil maksimal". Harus punya side hustle, harus melek AI terbaru, harus naik level setiap kuartal. Tanpa sadar, kita terjebak dalam perlombaan tanpa garis akhir. Di situlah burnout tumbuh subur bukan karena kita lemah, melainkan karena kita dipaksa terus-menerus menjadi "super".
Belajar dari Mesin: Logika 70 PersenMengejar kesempurnaan tanpa jeda adalah pintu gerbang menuju kelelahan mental. Kita dipaksa percaya bahwa hidup harus selalu di angka 100. Padahal, secara teknis, manusia tidak dirancang untuk bekerja di performa maksimal sepanjang waktu.
Mesin yang dipaksa bekerja di kapasitas 100 persen terus-menerus akan mengalami overheat dan "haus" lebih cepat. Sebaliknya, mesin yang berjalan di 70 persen tenaga justru lebih awet, stabil, dan tetap sampai ke tujuan. Begitu juga manusia. Hidup bukan tentang seberapa cepat kita membakar energi, tapi seberapa lama kita bisa bertahan tanpa hancur di tengah jalan.
Medioker: Keberanian untuk BerhentiDi sinilah makna medioker perlu kita rebut kembali. Menjadi medioker bukan berarti malas, apatis, atau berhenti bermimpi. Medioker adalah kesadaran untuk tahu batas.
Ia adalah keberanian untuk berkata “cukup” ketika dunia terus meneriakkan kata “lebih”. Dalam konteks 2026 yang serba cepat, menjadi medioker justru adalah strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.
Dengan ritme yang lebih manusiawi, kita tidak lagi menaruh seluruh harga diri pada jabatan atau saldo rekening. Kegagalan bukan lagi menjadi kiamat kecil, melainkan hanya sekadar jeda dalam perjalanan. Inilah titik di mana slow living menemukan relevansinya: bukan hidup lambat tanpa arah, melainkan hidup dengan kesadaran penuh.
Prestasi Tertinggi adalah KewarasanDi tahun 2026, mungkin prestasi tertinggi bukan lagi menjadi yang paling sibuk atau paling produktif. Bisa jadi, prestasi terbesar adalah menjadi yang paling tenang di tengah kekacauan. Tetap waras ketika dunia gaduh. Tetap utuh ketika standar hidup semakin tidak masuk akal.
Pada akhirnya, merasa biasa-biasa saja bukanlah tanda kita telah gagal. Bisa jadi, itu adalah cara paling jujur untuk tetap utuh. Di dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil luar biasa, memilih untuk tetap tenang dan "biasa saja" justru adalah sebuah keberanian.
Dalam dunia yang terus menuntut kita menjadi luar biasa, bertahan hidup dengan tenang adalah sebuah seni yang hanya bisa dikuasai oleh mereka yang berani menjadi "biasa saja".





