jpnn.com - PEKANBARU - Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan menegaskan bahwa perayaan Natal menjadi momentum refleksi mendalam tentang cinta kasih universal.
Tidak hanya kasih kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam semesta.
BACA JUGA: Orasi di YGPEA, Irjen Herry: Investasi Peradaban Dimulai dari Generasi Muda Merawat Alam
Irjen Herry menyampaikan hal itu saat perayaan Natal Agung Oikumene Provinsi Riau Tahun 2025, di GOR Gelanggang Remaja Jalan Jenderal Sudirman Kota Pekanbaru, Kamis (15/1).
Menurut Kapolda, nilai Natal mengajarkan kerendahan hati, kepedulian, serta tanggung jawab moral untuk menjaga seluruh ciptaan Tuhan, termasuk lingkungan hidup.
BACA JUGA: Kapolda Riau Irjen Herry Tinjau Program MBG, Ada Kabar Gembira untuk Anak Jalanan hingga Difabel
“Pada momen Natal yang penuh berkat ini, mari merenungkan makna kasih yang melampaui batas-batas manusia, yaitu kasih kepada sesama dan kasih kepada bumi yang Tuhan titipkan kepada kita,” ujar Irjen Herry.
Ia menyampaikan bahwa Provinsi Riau merupakan tanah dengan kekayaan alam yang melimpah.
BACA JUGA: Kombes Boy Penerima Satyalencana dari Presiden, Kini Jadi Karo SDM Polda Riau
Oleh karena itu, menjaga hutan, tanah, air, dan seluruh ekosistem merupakan bagian dari wujud iman dan pengamalan nilai-nilai keagamaan.
Irjen Herry juga mengibaratkan setiap upaya pelestarian lingkungan sebagai simbol spiritual Natal.
“Setiap pohon yang ditanam bisa menerangi masa depan. Setiap aksi menjaga lingkungan adalah hal memuliakan Tuhan,” ujarnya.
Pak Kapolda juga menyoroti Program Tabung Harmoni Hijau sebagai wujud nyata kasih Natal yang diimplementasikan oleh Polda Riau.
Program ini mengintegrasikan ketahanan pangan dengan pelestarian lingkungan melalui penanaman bibit dan pendampingan berkelanjutan.
“Tabung Harmoni Hijau adalah bentuk komitmen Polda Riau untuk menjaga bumi melalui kolaborasi lintas agama dan lintas sektor, demi mewujudkan Riau yang berkelanjutan. Setiap bibit yang ditanam adalah hadiah bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Irjen Herry pun menutup pernyataannya dengan harapan agar stigma negatif terhadap Riau dapat diubah menjadi kekuatan dan berkat.
“Mari mengubah Riau dari yang selama ini dikenal sebagai ‘penghasil asap’ menjadi ‘paru-paru Indonesia’. Ini adalah tanggung jawab moral dan spiritual bersama,” tuturnya. (mcr36/jpnn)
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Rizki Ganda Marito




