Nilai Tukar Rupiah Pekan Ini Melemah Beruntun, Menteri Rosan Bicara Dampaknya ke Investasi

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam batas yang dapat diterima investor. Menurutnya, fluktuasi rupiah telah diperhitungkan oleh investor asing saat menanamkan modal di Indonesia.

Berdasarkan pemberitaan Bisnis, rupiah dalam beberapa waktu terakhir berada dalam tren melemah dan pada Kamis (15/1/2026) ditutup di level Rp16.895,5 per dolar AS. Rosan mengatakan pergerakan tersebut masih bersifat fluktuatif dan belum mengganggu persepsi investor terhadap Indonesia.

"Saya melihat ini masih dalam range yang sangat-sangat acceptable oleh investor luar juga gitu. Jadi mereka sudah memperkirakan pergerakan dari mata uang kita, pada saat mereka berinvestasi ke Indonesia," terangnya kepada wartawan usai konferensi pers Capaian Realisasi Investasi Triwulan IV 2025 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

U.S. DOLLAR / INDONESIAN RUPIAH - TradingView

Di tengah dinamika nilai tukar dan ketidakpastian global, realisasi investasi sepanjang 2025 justru melampaui target. Total penanaman modal tercatat sebesar Rp1.931,2 triliun atau 101,3 persen dari target Rp1.905,6 triliun. Realisasi tersebut terdiri atas penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp1.030,3 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp900,9 triliun.

Rosan mengatakan capaian tersebut diraih di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi ekonomi global. Kondisi tersebut berdampak pada perlambatan pertumbuhan PMA yang hanya tumbuh 0,1 persen secara tahunan pada 2025, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 21 persen pada tahun sebelumnya.

Menurut Rosan, sejumlah ketegangan geopolitik global berada di luar kendali pemerintah Indonesia. Namun, pemerintah tetap berupaya menjaga iklim investasi domestik melalui perbaikan regulasi dan kebijakan.

Baca Juga

  • Kurs Rupiah Turun 7 Hari Beruntun Saat APBN 2026 Diperkirakan Bakal Minus di Atas 3%
  • Menakar Dampak Pelemahan Rupiah bagi Emiten Migas MEDC - ENRG Cs
  • Proyek Sampah jadi Listrik Legok Nangka yang Mangkrak dan Upaya Terobosan Pemprov Jabar

"Yang mereka [investor asing] tidak suka apabila uncertainty, ketidakpastiannya itu tinggi. Itu susah diukur oleh mereka dari segi mitigasi risikonya. Saya melihatnya optimis investasi kita ini akan terus berjalan baik," kata Rosan.

BI Stabilkan Rupiah

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah pelemahan yang sempat mencapai Rp16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026). Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan stabilisasi nilai tukar menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan.

Menurut Erwin, tekanan terhadap nilai tukar global pada awal 2026 dipengaruhi oleh eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter bank sentral AS di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik.

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," terang Erwin melalui keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).

Meski demikian, BI menilai pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lain yang juga terdampak sentimen global, seperti won Korea Selatan yang melemah 2,46 persen dan peso Filipina sebesar 1,04 persen.

BI menyatakan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi yang dilakukan secara berkelanjutan, termasuk intervensi non-delivery forward (NDF) di pasar luar negeri serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non-delivery forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, aliran masuk modal asing masih berlanjut, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham, dengan nilai neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026. BI menilai arus modal tersebut mencerminkan persepsi positif investor global terhadap Indonesia, sejalan dengan premi risiko CDS Indonesia tenor lima tahun yang berada di kisaran 72 basis poin.

Ketahanan eksternal Indonesia juga tercermin dari posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$156,5 miliar atau setara dengan 6,4 bulan impor. Cadangan devisa tersebut dinilai memadai sebagai bantalan dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.

"Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat," ujar Erwin.

BI menegaskan akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter yang pro-pasar guna menjaga kecukupan likuiditas, memperkuat transmisi kebijakan moneter, serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan tetap menjaga stabilitas nilai tukar dan sasaran inflasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kasus Suap Proyek Bekasi, KPK Dalami Dugaan Aliran Uang ke Ono Surono
• 18 jam lalumerahputih.com
thumb
9 Tradisi Unik Perayaan Isra Mikraj di Indonesia
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ditantang Dokter Tifa! Ade Darmawan Pastikan Jokowi Siap Sidang Kasus Ijazah Palsu | ROSI
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
AS Kirim USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, Ancam Keamanan Iran?
• 22 jam lalusuara.com
thumb
6 Film Indonesia Terbaru di Netflix yang Tayang 2026, Beragam Genre Mengguncang Emosi!
• 18 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.