(Artikel opini ini ditulis oleh Aditya Laksmana Yudha, Jurnalis Ekonomi Senior)
VIVA – Realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 yang diumumkan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani pada 15 Januari 2026 memberikan sinyal awal yang penting bagi dunia usaha. Dengan capaian Rp1.931 triliun yang melampaui target Rp1.905 triliun, serta penciptaan sekitar 2,7 juta lapangan kerja, investasi kembali menunjukkan perannya sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, terutama pada fase awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Tahun 2025 memiliki bobot strategis karena merupakan tahun anggaran pertama di bawah kendali penuh pemerintahan baru. Bagi pelaku usaha dan investor, capaian investasi pada tahun transisi kerap menjadi indikator awal arah kebijakan, konsistensi regulasi, dan komitmen pemerintah terhadap agenda pro-pertumbuhan. Dalam konteks ini, realisasi investasi 2025 dapat dibaca sebagai sinyal bahwa stabilitas makro dan keberlanjutan kebijakan ekonomi tetap dijaga.
Capaian tersebut menjadi semakin relevan bila dilihat dari lanskap global. Sepanjang 2025, perekonomian dunia masih diwarnai ketidakpastian akibat konflik geopolitik, fragmentasi rantai pasok global, serta menguatnya kebijakan proteksionis di sejumlah negara maju. Arus investasi global menjadi lebih selektif dan berhati-hati. Dalam situasi seperti itu, kemampuan Indonesia mempertahankan bahkan melampaui target investasi menunjukkan daya saing relatif yang masih terjaga, terutama dari sisi stabilitas politik dan pasar domestik yang besar.
Di sisi domestik, investasi juga berperan sebagai penahan tekanan ekonomi. Melemahnya daya beli masyarakat, meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja di beberapa sektor, serta dampak bencana alam pada akhir 2025 berpotensi menekan pertumbuhan. Masuknya investasi baru membantu menjaga momentum ekonomi dan menahan kontraksi lapangan kerja yang lebih luas. Bagi pelaku usaha, ini memberi sinyal bahwa permintaan jangka menengah masih memiliki prospek, meskipun jangka pendek tetap menantang.
Investasi Hilirisasi
Dari perspektif struktural, kinerja investasi 2025 sejalan dengan agenda prioritas pemerintahan Prabowo, khususnya hilirisasi dan industrialisasi. Investasi di sektor pengolahan dan industri berbasis sumber daya alam menjadi prasyarat untuk meningkatkan nilai tambah domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas mentah. Bagi dunia usaha, arah kebijakan ini memberi kejelasan sektor mana yang akan terus mendapat dukungan regulasi dan infrastruktur.





