Oleh : KH. Ahmad Jamil, Ph.D. Pengasuh Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isra’ Mi‘raj sering diperingati, tetapi jarang benar-benar dipahami. Ia hadir sebagai agenda tahunan yang rutin dan seremonial, sementara maknanya sebagai fondasi iman dan arah peradaban kerap terabaikan.
Padahal Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa spiritual yang menuntut kekaguman, melainkan titik pijak teologis yang membentuk struktur ibadah, mendisiplinkan kehidupan religius, serta menopang ketahanan peradaban Islam. Ketika makna ini dilupakan, Isra’ Mi‘raj kehilangan daya transformasinya bagi umat.
- Benarkah Sebelum Isra Miraj Rasulullah Sudah Sholat? Ini Penjelasan Prof Quraish Shihab
- Pemprov Jakarta Anggarkan Rp 31 Miliar untuk Modifikasi Cuaca Sepanjang 2026
- Sosok Pertama Sebar Kemusyrikan di Makkah
Al-Qur’an membuka peristiwa ini dengan ungkapan yang sangat kuat dan sarat makna teologis:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami.” (QS. Al-Isrā’: 1)
Pembukaan dengan kata subḥān (Maha Suci) bukan sekadar pujian. Dalam tradisi tafsir klasik, tasbih di awal ayat berfungsi sebagai penyucian Allah dari segala sangkaan keterbatasan yang dilekatkan oleh akal manusia. Seolah Al-Qur’an hendak menegaskan sejak awal bahwa peristiwa ini melampaui hukum kebiasaan, sehingga tidak dapat ditimbang dengan logika empiris semata.
Di sinilah Isra’ Mi‘raj berdiri sebagai peristiwa teologis sekaligus epistemologis: ia menguji cara manusia memosisikan iman, akal, dan wahyu.
Ujian Iman Sejak Awal PeristiwaSejak pertama kali disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi‘raj telah memunculkan reaksi yang beragam. Sebagian kaum Quraisy menertawakan dan menolaknya mentah-mentah. Bagi mereka, perjalanan dari Makkah ke Palestina, apalagi naik ke langit dan kembali dalam satu malam, adalah sesuatu yang mustahil secara nalar.
Namun respons paling menentukan justru datang dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika mendengar kabar tersebut, ia berkata singkat namun tegas, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka itu benar.” Pernyataan inilah yang mengukuhkannya sebagai ash-Shiddiq, sang pembenar.
Sikap Abu Bakar bukanlah bentuk anti-rasionalitas. Sebaliknya, ia adalah ekspresi rasionalitas iman: pengakuan bahwa sumber informasi yang paling jujur, amanah, dan konsisten, yakni Rasulullah SAW, tidak mungkin berdusta atas nama Allah. Di sinilah fondasi epistemologi Islam ditegakkan: akal bekerja dalam bimbingan wahyu, bukan sebagai penguasa absolut atas kebenaran.
Peradaban yang menyingkirkan wahyu demi supremasi akal akan terjebak dalam kesombongan intelektual. Sebaliknya, iman yang menafikan peran akal akan jatuh pada kebekuan. Isra’ Mi‘raj mengajarkan keseimbangan yang matang antara keduanya.
Isra’ Mi‘raj sebagai Peristiwa Pembentuk PeradabanSejumlah sarjana Muslim modern menegaskan bahwa Isra’ Mi‘raj harus dibaca sebagai peristiwa pembentuk peradaban, bukan sekadar mukjizat individual Nabi Muhammad SAW. Fazlur Rahman, misalnya, menekankan bahwa pengalaman kenabian dalam Islam selalu memiliki implikasi etis dan sosial. Ia bukan pengalaman mistik yang terputus dari realitas, tetapi justru melahirkan struktur nilai yang mengatur kehidupan umat.

