Menteri Agama RI napak tilas sejarah bangsa di Banda Naira Maluku

antaranews.com
3 jam lalu
Cover Berita
Ambon (ANTARA) - Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar melakukan napak tilas sejarah perjuangan bangsa dengan menyambangi sejumlah situs bersejarah peninggalan tokoh nasional di Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Maluku.

“Dalam napak tilas ini saya mengunjungi lima situs bersejarah, yakni rumah pengasingan Bung Hatta, rumah budaya Banda Neira, rumah pengasingan Sutan Syahrir, Perigi Rante, dan Istana Mini Banda Neira,” kata dia di Banda Neira, Jumat.

Saat melakukan kunjungan ke rumah pengasingan Bung Hatta, Menag menuturkan bangunan tersebut menjadi saksi bisu masa pembuangan Wakil Presiden pertama RI oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pasalnya, di tempat itulah Bung Hatta menjalani pengasingan pada 1936-1942, periode yang justru menguatkan gagasan tentang kemerdekaan, persatuan, dan masa depan Indonesia.

“Di rumah sederhana ini kita belajar bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya ditempa di medan pertempuran, tetapi juga melalui perenungan, keteguhan iman, dan komitmen moral,” ujar dia.

Menag menilai Bung Hatta sebagai sosok pemimpin yang menjunjung tinggi nilai etika, kejujuran, dan integritas, yang sejalan dengan ajaran agama. Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun bangsa yang berkeadaban.

Baca juga: Isra Mikraj, Menag ajak umat peduli alam dan sosial lewat nilai Shalat

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke rumah budaya Banda Neira yang menyimpan berbagai artefak seni dan tradisi lokal, seperti alat musik tradisional, kain tenun, serta dokumentasi sejarah masyarakat Banda. Menag menyebut rumah budaya sebagai ruang pewarisan nilai dan identitas bagi generasi muda.

“Budaya adalah bagian dari cara beragama dan berbangsa. Di sinilah generasi muda belajar mengenali jati diri dan akar sejarahnya,” katanya.

Dari rumah budaya, Menag mengunjungi rumah pengasingan Sutan Syahrir. Di tempat itu, tokoh pergerakan nasional tersebut dikenal banyak membaca dan menulis, melahirkan gagasan-gagasan kritis tentang demokrasi dan kemerdekaan.

Kunjungan berlanjut ke Perigi Rante, sumur tua yang dahulu menjadi sumber air utama sekaligus ruang perjumpaan sosial warga. Menag melihat Perigi Rante sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan yang telah mengakar lama dalam kehidupan masyarakat Banda Neira.

Baca juga: Kemenag: Pendidikan agama Islam jadi fondasi karakter bangsa

Napak tilas sejarah diakhiri di Istana Mini Banda Neira yang menyimpan beragam artefak dan foto-foto lama tentang perjalanan sejarah Banda, termasuk perjumpaan berbagai suku, budaya, dan agama yang hidup berdampingan sejak masa lampau.

Di lokasi tersebut, Menag berdialog langsung dengan warga setempat dan mengajak masyarakat untuk menjaga serta merawat warisan sejarah bangsa.

Menag menegaskan Banda Neira merupakan contoh nyata bagaimana nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan tumbuh secara harmonis. Keberagaman yang terjaga sejak dahulu, menurutnya, menjadi fondasi kuat bagi persatuan bangsa hingga hari ini.

Baca juga: Menag: Kurikulum berbasis cinta landasan pendidikan Islam masa depan

Baca juga: Menag: Perayaan Natal momentum perkuat solidaritas nasional


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Arbeloa justru puji Vinicius
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Jadwal Lengkap Piala ASEAN 2026, Kapan Timnas Indonesia Main?
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Gubernur Mualem beberkan kondisi pemulihan pascabencana di Aceh
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Warga Aceh Tamiang Antusias Sambut Bantuan MNC Peduli, iNews Media Group dan Danone
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
LaMelo Ball Cetak 30 Poin, Charlotte Hornets Tundukkan Lakers 135-117 di Los Angeles
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.