Kisah Pengamen di Simpang Dago, Menyambung Hidup dari Lagu dan Tawa

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah riuh kendaraan yang saling berebut ruang di perempatan Simpang Dago, Kota Bandung, sosok seorang lelaki berkemeja dan berpeci terlihat bergerak lincah mengikuti irama.

Tubuhnya bergoyang ringan, tangannya mengayun seraya mengikuti irama lagu-lagu sederhana yang akrab di telinga.

Bagi sebagian orang, itu hanya hiburan sekejap di sela menunggu lampu merah. Namun bagi Abah Rudi yang saat ini berusia 58 tahun, musik itu adalah penghidupan.

Meski usianya tidak lagi muda, gerakannya masih sigap. Ketika ditanya apakah joget sambil ngamen membuatnya letih, ia menggeleng kecil.

“Alhamdulillah kalau buat hiburan mah engga,” katanya mantap.

Abah Rudi sudah tujuh tahun menjalani keseharian sebagai pengamen jalanan menempati kawasan Dago, Cikapayang, hingga Jalan Sulanjana.

Ia tidak sendiri. Ada teman seperjuangan, komunitas kecil dari Sidolig yang mengisi persimpangan kota dengan nyanyian dan irama seadanya. Di hari itu, Abah mengamen bersama Pak Osa dan Mbak Yati. “Dari komunitas juga,” tutur Abah.

Usia yang terus menua tidak menjadi alasan untuk berhenti. Justru, baginya, jalanan adalah ruang rezeki terakhir yang masih terbuka.

“Nyari buat makan sehari-hari aja,” ucapnya lirih, “Udah tua mah mau kerja apalagi atuh.”

Pendapatannya tidak selalu menentu. Jika sedang ramai dan para pengguna jalan murah hati, ia bisa membawa pulang uang seratus ribu rupiah. Namun di hari biasa, ia bersyukur jika ada Rp 75 ribu, atau bahkan Rp 50 ribu. “Alhamdulillah buat makan,” katanya.

Biasanya, ia mulai turun ke jalan sejak siang hingga sore, berkeliling dari simpang ke simpang sepanjang belum turun hujan. Di antara kepulan asap knalpot dan suara klakson, ia terus bergoyang, sebuah cara sederhana untuk bertahan hidup, sekaligus menghadirkan hiburan bagi orang-orang yang hanya bertemu dengannya beberapa detik.

Di balik senyum yang terus ia tampakkan, ada cerita tentang keteguhan dan perjuangan. Bahwa di kota besar yang bergerak cepat ini, masih ada mereka yang mengandalkan suara, gerak, dan optimisme untuk menyambung hari.

Dan ketika lampu lalu lintas berubah hijau, kendaraan melaju, meninggalkan lelaki tua itu yang kembali bersiap pada ketukan selanjutnya. Untuk Abah Rudi, kehidupan berjalan dari satu lagu ke lagu berikutnya. Dengan tubuh yang menua, tetapi semangat yang masih tegap berdiri di ruas jalan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polisi Tangkap Dua Pelaku Asusila di Bus Transjakarta
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Wamenhaj: 6 calon petugas haji dipulangkan, tak jujur soal kesehatan
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
5 Olahraga yang Bikin Umur Panjang, Sudah Terbukti Ilmiah
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Wakil Ketua MPR Ajak Investor Global Lirik Panas Bumi Indonesia
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Yang Terjadi Sejauh Ini di Greenland
• 3 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.