JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah lengangnya parkiran motor di sekitar Stasiun Klender Baru, Jakarta Timur, pada libur panjang Isra Miraj, Jumat (16/1/2025), Dasuri (42) tetap menjalani rutinitasnya sebagai penjaga parkir.
Tempat parkir yang memanfaatkan lahan bekas minimarket itu biasanya dipadati sepeda motor milik para pekerja yang menaiki kereta rel listrik (KRL). Namun, suasana sepi pada hari libur membuat Dasuri lebih banyak duduk sambil menyeruput kopi, menunggu motor datang.
Dasuri mengungkapkan, setiap sepeda motor yang parkir di tempatnya dikenakan biaya Rp 7.000, terhitung sejak dititipkan hingga malam hari.
Baca juga: Kronologi 2 Pria Masturbasi di Bus TransJakarta Berujung Ditangkap Polisi
"Ya kalau untuk pendapatan sih dari itu aja, Rp 7.000 dikali 130 motor (yang parkir), di sini kalau hari kerja sampai pukul 23.00 WIB, kalau weekend cuma pukul 22.00 WIB," jelasnya saat ditemui Kompas.com di tempatnya bekerja, Jumat.
Meski dari luar terlihat omzet parkir bisa mencapai hampir jutaan rupiah per hari, Dasuri menegaskan uang tersebut bukan menjadi haknya sepenuhnya.
Ia bekerja dengan sistem setoran kepada pemilik lahan dan menerima gaji bulanan tetap.
"Sistemnya setoran kita, kalau saya digaji bulanan sekitar Rp 2,4 juta," ungkapnya.
Tak hanya menjaga dan menata kendaraan, Dasuri juga memikul tanggung jawab besar.
Ia harus bertanggung jawab jika terjadi kerusakan pada sepeda motor pelanggan selama diparkir.
Baca juga: Libur Panjang Isra Miraj, Lalu Lintas Tol Jakarta–Cikampek Meningkat
"Lah iya. Kalau Bos enggak tahu-menahu masalah kerusakan kayak spakbor, kayak tameng gitu. Itu kita tanggung jawab, kepada pelanggan kita," jelasnya.
Meski jumlah motor yang parkir pada libur panjang ini jauh berkurang, Dasuri tetap sigap setiap kali ada motor yang masuk. Ia langsung berdiri, mengatur posisi motor agar tetap rapi dan mudah diawasi.
"Kalau libur panjang pasti sepi enggak sampai 100 lah, karena di sini kan dominasi pekerja, Kalau hari kerja mah cuman 130-an motor, nah itu dari pagi udah nata motor," ucapnya.
Di sisi lain, ia mengaku membatasi jumlah motor yang dititipkan karena keterbatasan lahan.
Ia memilih tidak memanfaatkan trotoar demi menambah kapasitas parkir dan menambah keuntungan.
"Iya kita batasi, saya enggak mau makan trotoar, takut juga ditegur petugas jadi panjang. Kita tertib saja kalau di sini," jelasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



