4 Faktor Eksternal Penyebab Depresiasi Rupiah di Awal 2026

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Menjelang akhir 2025, rupiah sudah tertekan. Merujuk data Bank Indonesia, rupiah pada 31 Desember 2025 ditutup pada kurs Rp 16.670 per dolar AS atau melemah dibanding kurs rata-rata sepanjang 2025. Di saat yang sama, indeks dolar AS terhadap enam mata uang negara utama perekonomian dunia (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF) juga menguat ke level 98,32.

Pada 2 Januari 2026, rupiah dibuka pada kurs Rp 16.680 terhadap dolar AS. Selanjutnya, kurs rupiah bergerak fluktuatif dengan tren melemah di kisaran sekitar Rp 16.700 – Rp 16.900. Per 14 Januari, kurs rupiah ditutup pada Rp 16.855 per dolar AS. Sehari kemudian, kurs rupiah dibuka pada Rp 16.840 per dolar AS.

Reuters melaporan, indeks dolar AS—mengukur dolar terhadap sejumlah mata uang global — stabil di 99,36. Artinya, dolar AS cenderung menguat secara luas terhadap mata uang lain. Dengan demikian, pelemahan mata uang terhadap dollar AS merata, tidak hanya terjadi pada rupiah.

Pertanyaannya kemudian, apa faktor eksternal yang menyebabkan depresiasi rupiah di awal 2026 tersebut?

1.    Pengangguran di AS berkurang

Merujuk pemberitaan Reuters, data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian di AS turun 9.000 klaim menjadi 198.000 klaim secara musiman pada pekan yang berakhir 10 Januari 2026. Artinya, jumlah pengangguran di AS berkurang pada periode itu.

Laporan ketenagakerjaan pada Jumat untuk Desember 2025 menunjukkan tingkat pengangguran turun lebih besar dari perkiraan ekonom, menjadi 4,4 persen.

Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan jumlah klaim mencapai 215.000 untuk periode tersebut. “Kita berada di batas bawah kisaran,” kata Lou Brien, analis strategi di DRW Trading.

Ketika lapangan kerja menguat, tekanan kepada The Fed untuk menurunkan suku bunga berkurang. Dampaknya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi sehingga menarik bagi investior. Dengan demikian, investasi dalam dolar menjadi menarik.

2.    Inflasi di AS masih bandel

The Fed memiliki mandat ganda, yakni menjaga stabilitas harga dan mencapai tingkat ketenagakerjaan maksimum. Inflasi di AS masih bandel. Dengan situasi ini, pasar memperkirakan The Fed cenderung mempertahankan suku bunga acuan yang ada ketimbang memangkas dalam waktu dekat.

Mengutip laman Federal Reserve Kansas, Presiden Federal Reserve Kota Kansas, Jeff Schmid, Kamis, menyebut, inflasi masih terlalu tinggi. Laju inflasi di sekitar 3 persen, di atas target Federal Reserve sebesar 2 persen.

Penutupan pemerintahan pada 2025, ia melanjutkan, mengganggu pengumpulan data resmi. Meskipun aliran data telah kembali normal, dampak penutupan tersebut terhadap kualitas data kemungkinan akan terus terasa hingga awal 2026. Meski demikian, data yang tersedia saat ini, termasuk rilis Indeks Harga Konsumen untuk Desember 2025, konsisten dengan tingkat inflasi yang tetap mendekati 3 persen.

”Saya melihatnya begini, tugas Federal Reserve adalah menetapkan suku bunga untuk menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan di seluruh perekonomian. Dan indikator terbaik dari keseimbangan tersebut adalah tingkat inflasi secara keseluruhan. Ketika inflasi terlalu tinggi, harga-harga memberi sinyal bahwa pertumbuhan permintaan melampaui pertumbuhan penawaran. Inflasi telah berada di atas target The Fed sebesar 2 persen selama lebih dari empat tahun. Saya tidak melihat adanya ruang untuk bersikap lengah,” katanya.

3.    Kesenjangan imbal hasil

Bank sentral lain (seperti Bank Sentral Eropa/ECB dan Bank of Japan) tidak memperketat maupun melonggarkan kebijakan moneter dengan laju yang sama seperti The Fed. Kebijakan ini menciptakan divergensi kebijakan moneter. Sebagai contoh, Yen Jepang berada di dekat level terendah dalam beberapa bulan akibat perbedaan prospek kebijakan moneter, yang mendorong penguatan pasangan USD/JPY.

Ketika satu bank sentral utama menahan atau memperketat kebijakan sementara bank sentral lain bersikap lebih dovish, mata uang dari negara dengan kebijakan yang relatif lebih ketat cenderung menguat. Dovish adalah istilah dalam kebijakan moneter yang menggambarkan sikap bank sentral atau pejabat moneter yang cenderung longgar dan mendukung pertumbuhan ekonomi, meskipun berisiko mendorong inflasi.

Mengutip Reuters, Kepala ekonom Bank Sentral Eropa (ECB), Philip Lane, mengatakan, ECB tidak berencana mengubah suku bunga dalam waktu dekat selama ekonomi masih berjalan stabil. Namun, jika muncul guncangan baru—misalnya Fed bertindak berbeda dari mandatnya—maka prospek ekonomi bisa terganggu.

Sejak Juni 2025, ECB mempertahankan suku bunga setelah seri pemotongan suku bunga yang cepat. Pada Desember 2025, ECB menegaskan bahwa mereka tidak terburu-buru mengubah kebijakan. Pertimbangannya, pertumbuhan ekonomi masih cukup kuat dan inflasi diperkirakan akan tetap stabil di sekitar target 2 persen selama beberapa tahun ke depan.

 

4.    Safe haven dan ketidakpastian

Dalam pasar keuangan global dikenal istilah safe haven. Ini merujuk pada aset yang cenderung bertahan atau bahkan meningkat nilainya saat terjadi ketidakpastian, krisis, atau pasar bergejolak. Investor akan beralih ke aset ini untuk melindungi modal ketika risiko meningkat.

Aset yang termasuk kategori ini antara lain adalah dolar AS, emas, obligasi pemerintah AS, serta Yen Jepang dan Franc Swiss. Aset jenis mata uang masuk kategori ini jika pemerintahan di mana mata uang negara tersebut dicetak stabil, institusinya kuat, dan kebijakan moneternya bisa diprediksi. Aset tersebut juga harus mudah diperjual-belikan dalam volume yang besar dengan harga relatif stabil atau tetap.

Ketegangan di Timur Tengah, Venezuela, dan Laut Hitam telah mendorong harga miyak ke level tinggi karena kekhawatiran gangguan pasokan. Reuters melaporkan, protes di Iran, ancaman intervensi AS, dan serangan terhadap kapal tanker telah membuat harga minyak mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Sebab, pasar khawatir terjadi gangguan pasokan minyak.

Ketika risiko meningkat, dolar AS sering menguat terhadap mata uang lain karena dianggap lebih aman untuk investasi.

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jelang Piala Asia 2026, Timnas Futsal Indonesia Jalani 2 Uji Coba Tertutup
• 9 jam lalugenpi.co
thumb
Jennifer Lawrence Bicara Makna Jadi Ibu Rumah Tangga di Tengah Karier Hollywood
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Bukan Timnas Indonesia atau Vietnam, Pelatih Filipina Sebut Thailand sebagai Favorit Juara di ASEAN Championship 2026
• 11 jam lalubola.com
thumb
Menteri LH Ungkap Bahaya Insinerator Mini: Lebih Baik Sampah Menggunung
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Libur Panjang Isra Mikraj, Polisi Lakukan Rekayasa Lalin di Puncak Bogor
• 5 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.