Menengok Proses Produksi Pembuatan Mobil di BYD Zhengzhou Mega Factory

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, ZHENGZHOU — Kontras dengan hawa dingin pagi Kota Zhengzhou sekitar 6 derajat Celcius, sambutan hangat didapatkan delegasi jurnalis dan konten kreator otomotif asal Indonesia ketika mengunjungi langsung BYD Zhengzhou Mega Factory, China pada Kamis (16/1/2025) pagi. Sekitar 40 anggota delegasi, termasuk Republika, disambut oleh manajemen pabrik yang menjelaskan dengan detail proses serta keunggulan dari fasilitas mereka dibandingkan para pesaing.

Pabrik ini beroperasi penuh sejak 2022, menempati area seluas 10,67 juta meter persegi di Kawasan Ekonomi Bandara Zhengzhou, dan dilengkapi dengan sirkuit uji all-terrain sendiri seluas 198.700 meter persegi. Para jurnalis dan konten kreator diajak berkeliling, menyaksikan tahapan demi tahapan proses pembuatan mobil energi baru (NEV) BYD. Butuh tiga hari proses dari pelat menjadi sebuah mobil di pabrik ini.

Baca Juga
  • BYD Janjikan Pabrik di Subang Beroperasi pada Kuartal I Tahun Ini
  • BYD Perkenalkan Fasilitas Komplet Sirkuit All-Terrain NEV dan Mobil Canggih di Zhengzhou
  • BYD Siap Luncurkan Linghui Sebagai Armada Transportasi Daring

Seperti lazimnya kunjungan media ke pabrik otomotif, wartawan dan konten kreator diminta tidak memfoto atau merekam. Rombongan media mendapatkan penjelasan dari insinyur penanggung jawab pabrik melalui penerjemah. Kami dipimpin oleh Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia Eagle Zhao.

Kunjungan kami diawali di area stamping, tahap pertama produksi bodi kendaraan. Lima lini mesin pres berkapasitas 7.900 ton bekerja dengan kecepatan tinggi, mampu membentuk panel bodi dari baja dan aluminium hingga 15 kali per menit.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

"Seluruh proses berlangsung dalam sistem tertutup untuk mengurangi kebisingan, debu, dan meningkatkan keselamatan kerja," kata penjelasan penanggung jawab pabrik lewat penerjemah.

Dari situ, panel-panel bodi bergerak otomatis ke area welding. Sekitar 1.800 robot industri, termasuk 14 robot yang bekerja serempak, menyambung komponen menjadi rangkaian bodi utuh. Tingkat otomatisasi di sini melebihi 98 persen. Proses penyambungan untuk satu unit kendaraan hanya memakan waktu 35-45 detik, dengan inspeksi kualitas real-time oleh empat robot khusus.

Tahap selanjutnya adalah painting. Delegasi wartawan Indonesia tidak bisa masuk ke area ini saat itu karena alasan teknis. Namun dalam penjelasan pihak BYD, proses ini hampir seluruhnya dikerjakan oleh robot. Bodi kendaraan menjalani serangkaian lapisan, mulai dari electrodeposition coating untuk anti-korosi, aplikasi sealant, hingga pengecatan warna akhir. Sistem pengolahan gas buang yang canggih dipasang untuk meminimalkan dampak lingkungan.

Setelah dicat, bodi memasuki lini final assembly. Di sinilah ribuan komponen dirakit menjadi kendaraan utuh. Sistem Automated Guided Vehicle (AGV) mengantarkan modul seperti dashboard, jok, dan powertrain tepat ke titik perakitan. Sistem Just In Sequence memastikan suku cadang datang sesuai urutan produksi.

Momen paling menarik adalah pemasangan battery pack. AGV khusus mengangkat dan memasang paket baterai Blade Battery yang berat ke dalam sasis kendaraan dengan presisi tinggi, sebuah proses yang menunjukkan integrasi vertikal BYD dalam memproduksi komponen intinya sendiri.

Setelah dirakit, setiap unit menjalani pemeriksaan fungsi dasar di dalam pabrik. Kendaraan kemudian dibawa ke BYD All-Terrain Circuit di dalam kompleks yang sama untuk pengujian dinamika terakhir di berbagai simulasi medan.

Eagles menjelaskan, pabrik ini adalah contoh nyata strategi integrasi vertikal BYD. "Dari baterai, komponen, perakitan, hingga pengujian, semua terkonsolidasi di satu tempat. Ini memungkinkan kontrol kualitas yang ketat dan efisiensi operasional," kata Eagle.

Pabrik Zhengzhou merupakan salah satu dari delapan pabrik BYD yang mendukung kapasitas produksi globalnya. Pada 2025, BYD mencatat penjualan global 4,6 juta unit, dengan ekspor kendaraan listriknya pertama kali melampaui satu juta unit.

Liu Xueliang, General Manager BYD Asia Pacific Auto Sales Division, turut menyampaikan bahwa pertumbuhan tersebut didorong oleh inovasi dan fondasi industri yang kuat. Ia juga menyebut kontribusi pasar Indonesia, di mana BYD telah menjual lebih dari 54.000 unit dalam setahun, sebagai bagian dari ekspansi global mereka.

Kunjungan ini memberikan gambaran langsung tentang skala dan teknologi yang mendorong BYD sebagai salah satu pemain utama kendaraan listrik dunia. Untuk pasar Indonesia, BYD saat ini mengoperasikan lebih dari 80 titik penjualan dan berencana melakukan ekspansi jaringan lebih lanjut pada 2026.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Korlantas Tegaskan Disiplin Sopir dan Armada Laik Jalan Menjelang Mudik Lebaran
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Trump Dukung Venezuela Tetap Gabung OPEC
• 13 menit laluidxchannel.com
thumb
“Child Grooming”: Datang Tanpa Ancaman, Pelaku Pura-pura Penuh Perhatian
• 8 jam lalukompas.id
thumb
Tanpa Pemain Abroad, John Herdman Harus Bisa Persembahkan Gelar Juara Piala AFF 2026, Pengamat: Pelatih Baru, Hasil Lebih Bagus
• 11 jam lalubola.com
thumb
Persib Bandung Juara Paruh Musim, Bojan Hodak Kurang Puas
• 19 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.