SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di Iran menyusul gelombang protes yang diwarnai bentrokan fisik dan tindakan keras aparat keamanan.
Berbicara di hadapan Sidang Umum PBB di New York, Kamis (15/1), Guterres menegaskan pentingnya perlindungan hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat secara damai.
“Kita harus melindungi kebebasan berbicara dan ruang sipil,” kata Guterres.
Baca juga : Gedung Putih: Iran Batalkan 800 Eksekusi Mati Para Demonstran
Ia menyoroti laporan penggunaan kekerasan aparat terhadap demonstran di berbagai kota besar di Iran.
“Dalam konteks itu, saya sangat prihatin dengan apa yang disebut sebagai represi kekerasan yang terjadi di Iran,” tegasnya.
Akar Protes: Tekanan Ekonomi dan Dinamika PolitikGelombang protes di Iran pecah pada akhir Desember 2025, dipicu memburuknya kondisi ekonomi nasional. Lonjakan inflasi terjadi seiring melemahnya nilai tukar rial Iran terhadap mata uang asing, yang berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
Baca juga : Kedubes Iran: Ada Keterlibatan Asing pada Aksi Protes di Teheran
Tekanan ekonomi tersebut memperparah ketidakpuasan publik terhadap tata kelola negara yang selama ini berada di bawah sistem Republik Islam, yang berdiri sejak Revolusi Islam 1979. Revolusi tersebut menggulingkan monarki Shah Iran dan membentuk struktur kekuasaan yang memusatkan otoritas politik dan keagamaan di bawah kepemimpinan ulama.
Aksi unjuk rasa dilaporkan semakin intensif sejak 8 Januari 2026, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979. Pada periode yang sama, pemerintah Iran dilaporkan melakukan pemblokiran internet secara luas guna membatasi koordinasi massa serta arus informasi ke luar negeri.
Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan terjadi di Teheran serta sejumlah pusat provinsi lainnya. Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi terkait korban, sementara media independen melaporkan adanya korban luka dan jiwa di kedua belah pihak.
Guterres menyerukan agar semua pihak menahan diri dan meminta pemerintah Iran menghormati hak asasi manusia guna mencegah eskalasi kekerasan yang dapat memperdalam krisis nasional. (Sputnik/Ant/I-1)




