Dunia Menatap ”Artificial Superintelligence”

kompas.id
16 jam lalu
Cover Berita

Dunia semakin hari semakin akrab dengan kecerdasan buatan atau AI. Banyak pekerjaan rumit, seperti mengolah data besar, membaca teks superpanjang, hingga menyarikan ribuan informasi, kini dapat diselesaikan AI dalam sekejap. Manusia mengalami betapa efektif dan canggihnya AI dapat membantu pekerjaannya.

Meskipun sebagian mengalami AI saat ini sebagai kecanggihan dan lompatan besar, nyatanya kecerdasan buatan yang ada saat ini masih berada dalam tahap teknologi yang sempit.

IBM menyebut, tingkat AI saat ini berada dalam tahap artificial narrow intelligence (ANI). Bahkan, AI yang saat ini tampak canggih masih disebut AI yang lemah.

Dalam tugas tertentu, seperti menerapkan strategi bermain catur hingga menerjemahkan bahasa, ”AI yang lemah” sudah sangat unggul. Kendati begitu, AI saat ini belum mampu mempelajari skill baru dan mengembangkan pemahaman mendalam tentang dunia.

Secara teknis, kecerdasan buatan yang ada saat ini bergantung pada algoritma dan data yang sudah diprogram terlebih dahulu. Selain itu, bagaimana ia beroperasi masih membutuhkan intervensi manusia. Di masa depan, bahkan sebagian memperkirakan dalam waktu dekat, dunia akan menyambut kehadiran artificial superintelligence (ASI).

AI supercerdas

Artificial superintelligence merupakan sistem kecerdasan buatan berbasis perangkat lunak hipotetis dengan kemampuan intelektual yang melampaui kecerdasan manusia. Bahkan, di level paling basis, ASI mempunyai kemampuan kognitif yang canggih dan keterampilan berpikir melebihi kemampuan manusia.

Dengan kata lain, ASI melampaui kecerdasan manusia hampir di seluruh bidang yang relevan, bukan hanya satu dua keahlian. ASI dipandang akan mampu melakukan penalaran, kreativitas, strategi, hingga pembelajaran lintas konteks.

Artinya, kemajuan AI menuju ASI bukan hanya perkara unggul dalam kecepatan, melainkan keunggulan kecerdasan secara kualitatif. Jika dibandingkan manusia (general intelligence), ASI tidak memiliki batas biologis yang dimiliki oleh manusia.

Batasan-batasan biologis manusia membuat manusia belajar cenderung lebih lambat, memiliki batasan memori, umur, dan perhatian. Sementara ASI dapat belajar secara simultan, tidak menua, dapat mengakses seluruh pengetahuan global, bahkan mampu memperbaiki arsitekturnya sendiri. Sekali saja ASI melampaui manusia, jarak kecerdasan di antara keduanya akan terjadi secara eksponensial dan cepat.

Perkembangan menuju ASI

Sebelum menuju ASI, perlu dicatat, kecerdasan buatan saat ini harus mampu sampai pada artificial general intelligence (AGI) alias AI yang kuat.

AGI adalah kecerdasan buatan yang setara dengan manusia. AI level ini sudah mampu memahami duninia sampai menerapkan pemecahan masalah secara luas dan fleksibel seperti manusia.

Hingga saat ini, AGI dan ASI belum sepenuhnya dikembangkan sebab menuntut sejumlah kemajuan teknologi terlebih dahulu. Pertama, model bahasa besar (LLM) dan kumpulan big data masih harus terus dikembangkan.

Hal ini menjadi kunci sebab menjadi cara AI tingkat lanjut untuk memahami bahasa manusia secara alami dan berkomunikasi menggunakannya.

Berikutnya, perlu dikembangkan lagi AI multisensoris. Untuk menjadi supercerdas, AI perlu kemampuan memproses dan mengintepretasikan berbagai bentuk data, mulai dari teks, audio, gambar, hingga video.

Selanjutnya, sebagaimana otak manusia yang penuh jaringan neuron, masih perlu dikembangkan lagi neural network yang jauh lebih kompleks dan canggih.

Sejumlah tantangan lain yang masih perlu dikembangkan yakni komputasi neuromorfik dan komputasi evolusioner. Dua poin ini adalah upaya untuk mengikuti bagaimana evolusi biologis terjadi dalam sejarah peradaban. Ini berguna bagi AI untuk sungguh memahami bagaimana seleksi alam dan dunia ini bekerja.

Manfaat dan risiko AI supercerdas

Pertanyaannya kini, jika dunia berhasil mewujudkan kehadiran ASI, apa manfaatnya? Perlu disadari terlebih dahulu bahwa sebagian ahli berpendapat ASI akan menjadi penemuan terakhir yang mampu diciptakan manusia.

ASI akan menjadi makhluk supercerdas tanpa limitasi. Ia dapat berproses 24 jam dalam seminggu dengan kemampuan proses dan analisis untuk menghasilkan temuan yang mungkin belum terbayangkan oleh manusia.

Ketika ini tercapai, manusia akan menggunakan ASI untuk mencari solusi terbaik dari masalah kehidupan, mulai dari kesehatan, keuangan, politik, hingga industri. Dalam hal ini, ASI akan mengurangi kesalahan manusia secara signifikan, terutama dalam pemograman dan mengelola risiko.

Di samping kemajuan ”ajaib” yang dijanjikan ASI, para ilmuwan memperingatkan bahaya yang melekat. ASI akan memiliki kesadaran dengan sendirinya yang akan menimbulkan risiko eksistensial manusia di muka Bumi.

Tidak hanya itu, bahkan sebelum menuju ke sana, kehadiran ASI berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran, gejolak ekonomi sosial, bahkan memperlebar kesenjangan.

Belum lagi, otomatisasi dalam perangkat senjata militer berpotensi menimbulkan peperangan dan bentuk-bentuk destruktif lainnya. Pasalnya, ketika ASI dikembangkan dengan etika dan moralitas manusia, tidak ada seperangkat kode moral yang disepakati secara global.

Ketakutan sebagaimana ditampilkan dalam film fiksi ilmiah, seperti Transendence (2014), Her (2013), dan Ex Machina (2014), akan ditemui secara nyata di dunia.

Artinya, ketika dunia dapat membayangkan kehadiran ASI, semestinya ada kesepakatan etika moral global. Hal yang akan jadi utopia jika antarnegara nyatanya masih saling mengejar dominasi masing-masing.

Di dunia yang masih demikian, chaos yang terjadi di film fiksi ilmiah saat ASI sungguh-sungguh hadir pun menjadi keniscayaan. (LITBANG KOMPAS)

Serial Artikel

AI Boom atau AI Boom(erang) dan Indonesia

Kita tentu berharap yang terbaik, tetapi kewaspadaan adalah kewajiban. Ekonomi, pada akhirnya, bukan angka; ia berumah di kehidupan sehari-hari.

Baca Artikel


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tim Sar Evakuasi Lansia Tercebur Sumur Sedalam 5 Meter | KOMPAS MALAM
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Eggi Sudjana dan Damai Lubis Lolos dari Kasus Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Tantrum
• 11 jam lalufajar.co.id
thumb
Bek Fenerbahce Jayden Oosterwolde Dijatuhi Hukuman Penjara
• 13 jam lalueranasional.com
thumb
IHSG Sepekan Capai Rekor Tertinggi 9.075, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp 16.512 T
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Jadi CEO yang Perfeksionis, Simak Cerita Go Kyung Pyo Tentang Perannya di Undercover Miss Hong
• 3 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.