AS Target Sita Lebih Banyak Kapal Tanker Venezuela

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

AS meningkatkan tekanan terhadap perdagangan minyak Venezuela dengan menargetkan penyitaan lebih banyak kapal tanker yang terlibat dalam pengangkutan minyak negara tersebut.

Mengutip Reuters pada Sabtu (17/1), pemerintah AS dilaporkan telah mengajukan permohonan surat perintah pengadilan untuk menyita puluhan kapal tanker lain terkait dengan perdagangan minyak Venezuela. Empat sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan langkah ini merupakan bagian dari konsolidasi AS atas arus keluar-masuk minyak dari negara Amerika Selatan itu.

Kebijakan ini menyusul penyitaan terbaru terhadap Motor/Tanker Veronica, sebuah kapal Aframax berbendera Guyana, yang diamankan oleh militer AS dalam operasi dini hari di Karibia. Komando Selatan militer AS mengonfirmasi operasi tersebut berlangsung tanpa insiden.

"Satu-satunya minyak yang meninggalkan Venezuela adalah minyak yang dikoordinasikan dengan benar dan sesuai hukum," kata Komando Selatan dalam sebuah pernyataan.

Menurut militer AS, kapal itu beroperasi dengan melanggar karantina kapal-kapal yang telah dikenai sanksi oleh Presiden Donald Trump. Berdasarkan dokumen pengapalan dari perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, dan data TankerTrackers.com, Veronica meninggalkan perairan Venezuela dalam kondisi kosong pada awal Januari dan tak kembali, berbeda dengan sejumlah kapal lain yang belakangan kembali ke wilayah tersebut.

Penyitaan Veronica menjadi kapal keenam yang ditargetkan sejak pertengahan Desember 2025. Sebagian besar kapal yang dicegat sejauh ini disebut berada di bawah sanksi AS atau tergolong sebagai bagian dari "shadow fleet", yakni armada kapal yang menyamarkan asal-usul minyak untuk menghindari sanksi internasional.

Otoritas maritim Panama, Kepulauan Cook, dan Guyana menyebutkan banyak kapal yang disita menggunakan bendera palsu atau telah kehilangan pendaftaran resmi sebelum dicegat oleh otoritas AS.

Tindakan agresif ini berakar dari kampanye Presiden Trump untuk menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan. Kampanye itu mencapai puncaknya pada 3 Januari 2026 ketika pasukan AS melakukan operasi langsung untuk menangkap Maduro dan istrinya.

Sejak saat itu, Trump menyatakan AS berencana mengendalikan sumber daya minyak Venezuela untuk jangka waktu tak terbatas. Washington juga menyiapkan rencana investasi senilai USD 100 miliar guna membangun kembali industri minyak Venezuela yang telah lama mengalami kemunduran.

Di sisi lain, ketegangan internasional turut meningkat pekan lalu setelah AS menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia yang dikawal oleh kapal selam Rusia, usai pengejaran selama lebih dari dua minggu melintasi Samudra Atlantik. Tindakan tersebut menuai kecaman keras dari Moskow.

Lebih lanjut, penyitaan kapal-kapal ini juga terjadi menjelang pertemuan antara Trump dan pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado. Meski Trump sebelumnya menyebut Machado sebagai “freedom fighter”, ia menepis kemungkinan menempatkannya sebagai pemimpin Venezuela, dengan alasan kurangnya dukungan domestik.

Sementara itu, sebuah penilaian rahasia CIA yang disampaikan kepada Trump menyimpulkan kelompok loyalis Maduro masih berada pada posisi paling kuat untuk menjaga stabilitas di Venezuela.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kuasa Hukum Bantah Eggi Sudjana Dapat Rp100 Miliar Usai Bertemu Jokowi
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Telkomsel Raih Indonesia Rising Stars Award 2026 Kategori Impact Solutions
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Strategi Memulai Trading di 2026, Mengubah Resolusi Menjadi Realitasi
• 9 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Saat Pesawat ATR Hilang Kontak, Warga Maros Dengar Ledakan di Gunung Lapihau
• 6 menit lalukumparan.com
thumb
Pencarian Pesawat ATR 400 yang Hilang di Maros Terhambat Kabut Tebal, Basarnas Dirikan Posko di Leang-leang
• 2 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.