Guru Besar Geolinguistik UI Ungkap Alasan Nama Thailand Berubah Jadi Tailan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Guru Besar Geolinguistik Universitas Indonesia (UI), Prof. Multamia Lauder, terlibat dalam pembaruan eksonim penulisan nama-nama negara di dunia. Sejumlah perubahan dilakukan, di antaranya Thailand yang kini ditulis menjadi Tailan, hingga Uruguay yang berubah menjadi Uruguai.

Menurut Multamia, perubahan nama-nama negara yang dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia merupakan instruksi PBB. Khususnya di bawah naungan The United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) yang sudah berdiri pada 1967. Salah satu resolusi UNGEGN, kata dia, adalah mewajibkan semua anggota PBB melakukan pengelolaan dan pembakuan toponim (nama tempat) berdasarkan bahasa lokal, sejarah, dan budaya di negara masing-masing.

“Jadi itu perintahnya perintah dari PBB. Bukan kita ngarang-ngarang, bukan inisiatif itu, memang seperti itu. Karena ini terkait dengan masalah bagaimana kita bisa menata yang namanya kesejahteraan dari semua penduduk di dunia ini, tapi berangkat dari nama,” kata Multamia kepada kumparan, Jumat (16/1).

Multamia menyebut, dirinya kerap hadir di setiap sidang yang diadakan UNGEGN di New York setiap dua tahun sekali. Di sana, kata dia, UNGEGN selalu menagih tiap-tiap negara untuk mengirimkan dokumen yang berisi ejaan nama-nama negara sesuai versi lokal masing-masing.

Selanjutnya, kata dia, Indonesia melalui berbagai macam stakeholder akhirnya merumuskan nama-nama negara sesuai dengan konstruksi bunyi bahasa Indonesia itu sendiri. Adapun penetapan ejaan baku nama-nama negara asing merupakan kewenangan Badan Informasi Geospasial (BIG) sebagai otoritas utama penamaan geografis nasional Indonesia.

“Permintaan PBB tuh sudah lama setiap tahun. Itu dia [UNGEGN] setiap kita sidang selalu dicek lagi ‘Siapa negara lain lagi yang sudah masukin? Ayo mana negara yang belum?’ Ditagih terus itu, terus-menerus ditagih. Karena memang ada negara-negara yang aktif seperti Indonesia, ada negara-negara yang cuek bebek gitu,” ungkapnya.

Alasan Thailand Jadi Tailan, Uruguay Jadi Uruguai

Sebenarnya, kata Multamia, sempat ada diskusi bahwa Thailand supaya dialihbahasakan menjadi Tailandia. Kala itu argumennya, kata dia, lantaran ada negara Finland yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai Finlandia atau Iceland yang dikenal sebagai Islandia. Namun, opsi itu tak diambil lantaran ada pelafalan yang lebih ringkas dan sudah terbiasa diucapkan.

“Kenapa sekarang kita tidak mengambil yang lebih ringkas karena kalau kita melihat konstruksi bunyi dari bahasa Indonesia, “Konstruksi ‘TH’ itu kan enggak ada dalam bahasa Indonesia. Kan enggak ada bunyi kata-kata yang dengan ‘TH’ gitu, kan enggak ada, adanya ‘T’. Nah, jadi berarti H-nya itu harus luluh jadi ‘T’ saja. Lalu ‘LAND’ dalam arti konstruksi ‘ND’ dalam kata-kata dalam bahasa Indonesia kan juga enggak ada kan? Enggak ada konstruksi ‘ND’ itu,” katanya.

Sementara itu, kata dia, Uruguay menjadi Uruguai karena bahasa Indonesia tidak mengenal huruf Y di akhir kata. Hal ini misalnya berbeda dengan konstruksi bahasa Inggris yang antara tulisan dan pelafalan bisa berbeda.

“Karena dalam bahasa Indonesia yang pakai konstruksi bunyi pakai ‘Y’ akhirnya kan enggak ada. Kalau ‘sungai’ kan kita nulisnya sungai kan gitu, ‘pantai’ juga [ditulisnya] pantai kan gitu. Konstruksi ejaan bahasa Indonesia itu pakai ‘I’ kan gitu. Santai juga kita kan enggak pakai ‘Y’, santai nulisnya. Jadi bukan hanya apa bunyinya, tapi kita juga harus patuh kepada konstruksi penulisan yang namanya ejaan dalam bahasa Indonesia,” ungkap dia.

Multamia lalu mencontohkan bahwa banyak nama-nama negara lain yang disebut oleh orang Indonesia berbeda dengan penamaan aslinya. Contohnya, kata dia, Belanda dalam bahasa Inggris disebutnya Netherlands. Namun, orang-orang Belanda sendiri menyebut negaranya sebagai Holland. Selain Belanda, kata dia, orang Jepang menyebut negaranya sebagai Nihon. Sementara dalam bahasa Inggris disebutnya sebagai Japan.

“Ada orang yang bilang "Ih baru pulang dari Nihon ya?", enggak ada yang bilang gitu kan. "Ih baru pulang dari Jepang nih, mana oleh-olehnya?" Kok kita nyebutnya Jepang? Jauh banget sama Nihon ya. Netherlands [penulisannya] jauh ya dari Belanda,” ungkapnya.

Negara Lain Juga Menulis Nama Indonesia Berbeda-beda

Prinsipnya, kata dia, setiap negara berhak mengeja nama negara lain sesuai dengan stuktur bahasanya masing-masing. Nama Indonesia pun di mata negara-negara lain bisa berubah. Orang Prancis, misalnya mengeja nama Indonesia sebagai Indonésie. Sementara orang Arab menulisnya Indūnīsiyā

“Bagaimana Indonesia ditulis? nama Indonesia ditulis oleh negara-negara sana ya suka-suka mereka juga kan? Ada yang nulis Indonesië, ada yang nulis Indonesia, ada yang nulis Indochina, ada yang macam-macam. Itu hak dia,” pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Aditya Triantoro, Sosok di Balik Animasi Nussa Rara yang Ramai Dibahas
• 4 jam laluinsertlive.com
thumb
Dua Pria Masturbasi di Transjakarta Jadi Tersangka, Terancam Satu Tahun Penjara
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Gempa M 5,5 Terjadi di Maluku Tengah
• 6 jam laludetik.com
thumb
Judika Hadirkan Warna Baru Lewat Lagu Folk “Terpikat Pada Cinta”
• 20 jam laluintipseleb.com
thumb
KNMP Bantu Pergerakan Ekonomi Perikanan Daerah
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.