SURABAYA, KOMPAS – Puluhan umat sebuah gereja di Manado, Sulawesi Utara, mengalami gejala keracunan setelah bersantap siang bersama telah diizinkan pulang pada Sabtu (17/1/2026) pagi. Kepolisian telah memeriksa lima saksi sembari menunggu pengungkapan penyebab keracunan oleh laboratorium setempat.
Menurut penelusuran Dinas Kesehatan Manado, ada 77 anggota jemaat Gereja Mawar Sharon (GMS) Manado mengeluh pusing dan sakit kepala, mual, hingga muntah-muntah setelah bersantap makan siang selepas ibadah, Jumat (16/1) siang.
Mereka dirawat dibawa ke empat rumah sakit berbeda: RSUD Provinsi Sulut, RS Advent Manado, RSU GMIM Pancaran Kasih, dan RS Siloam Manado.
Kepala Dinas Kesehatan Manado Boby Kereh menyebut, sebagian mengalami gejala tersebut sesaat setelah makan. Sebagian lagi mengalaminya ketika di jalan setelah meninggalkan lokasi ibadah di daerah Malalayang.
“Gejala yang dialami itu gejala umum (keracunan makanan),” ujarnya.
Setelah mendapatkan laporan pada Jumat malam, para petugas dinas segera mengambil sampel makanan yang dikonsumsi, yakni tuna bumbu rendang dan tuna bumbu rintek wuuk, atau yang lebih dikenal sebagai RW. Sampel yang diambil dikirim ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Manado.
Boby menambahkan, petugas juga mengambil sampel muntahan para korban keracunan di rumah sakit untuk diteliti di laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Manado.
“Sekarang belum bisa (dipastikan), ini bakteri apa. Kami menunggu hasil dari laboratorium untuk menentukan. Mudah-mudahan (kami) bisa cepat mendapatkan hasil pemeriksaan,” kata Boby.
Untuk sementara, ia mengatakan, jumlah pasien yang masih dirawat di rumah sakit telah berkurang karena semua telah menerima perawatan. Di RSUD Provinsi Sulut, atau yang lebih dikenal sebagai RS ODSK, misalnya, hampir 40 pasien yang diterima telah diizinkan pulang seluruhnya pagi ini.
Direktur RS ODSK dr Lidya Tulus mengatakan, seluruh korban telah diobservasi dan dirawat hingga kondisinya stabil sehingga bisa pulang. “Jika masih ada keluhan, bisa datang kembali ke rumah sakit,” kata dia.
Lidya mengatakan, para korban mulai berdatangan ke instalasi gawat darurat (IGD) sekitar pukul 18.00 WITA pada hari Jumat. Mereka terdiri dari 28 orang dewasa dan delapan remaja. Insiden keracunan makanan dalam jumlah besar ini, kata dia, adalah yang kali pertama ia alami di RS ODSK selama bekerja di sana.
Ia mengatakan, kapasitas IGD sebesar 20 pasien saat itu sebenarnya sudah penuh sehingga para tenaga kesehatan harus memindahkan tempat-tempat tidur dari ruang rawat inap. Sebagian pasien terpaksa ditempatkan di kursi.
Jumlah dokter di IGD juga ditambah dari dua menjadi tiga, sedangkan perawat dari enam menjadi 12.
“Yang penting mereka bisa ditangani sesuai derajat berat (atau) ringan (gejala) yang dialami. Sudah ditriase oleh dokter di IGD dan para (tenaga) medis. Yang parah ditangani duluan, tetapi tidak mengabaikan pasien kami yang sudah ada,” kata Lidya.
Sementara itu, petugas Reserse Kriminal Polresta Manado telah mulai memeriksa lima saksi. Mereka adalah ketua jemaat GMS Manado, dua orang penyedia makanan, ketua panitia penyelenggara ibadah, dan seorang jemaat.
Kepala Satuan Reskrim Polresta Manado, Ajun Komisaris Elwin Kristanto, mengatakan, makanan yang disediakan bukan berasal dari jasa boga profesional, melainkan perseorangan dari kalangan anggota jemaat.
“Itu swadaya jemaat,” ujarnya.
Kepolisian juga telah mengambil sampel ikan tuna yang menjadi menu makan siang itu, lalu menyerahkannya ke Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Sulut untuk diteliti.
Pemeriksaan sampel membutuhkan kurang lebih empat sampai lima hari kerja, dimulai Senin (19/1).
“Baru tadi pagi kami antarkan,” kata Elwin.
Sementara itu, ketua jemaat GMS, Pendeta Frengky Pahibe, belum dapat dihubungi. Ia mengunci akses ke akun Instagram serta Facebook-nya.
Insiden yang menimpa jemaat GMS Manado adalah kasus keracunan makanan ketiga di Sulut yang mendapatkan perhatian media dan warga dalam enam bulan terakhir.
Pada September 2025, lebih dari 70 mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) mengalami gejala keracunan setelah makan bersama di asrama mahasiswa.
Dua bulan kemudian, 182 murid dan guru di SMP Negeri 2 Airmadidi, Minahasa Utara, mengalami gejala keracunan makanan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada akhir November. Sebagian korban juga mengalami gejala diare, sebagaimana diberitakan Kompas TV.



