Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri pengolahan nonmigas (IPNM) berhasil tumbuh hingga 5,17% (triwulan I-III) atau di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,01% (triwulan I-III).
“Dan kalau kita lihat pertumbuhan IPNM 5,17% sudah di atas pertumbuhan ekonomi. Ini yang kita harapkan, saya selalu sampaikan bahwa yang kami inginkan adalah sektor manufaktur itu justru yang menarik ekonomi, bukan sebaliknya. Bukan ekonomi yang menarik manufaktur, tapi manufaktur yang harus menarik ekonomi,” kata Agus dikutip Kamis (1/1).
Lebih lanjut, Agus menyampaikan bahwa kontribusi investasi IPNM tercatat hingga Rp552 triliun (triwulan I-III). Selain itu, penyerapan tenaga kerja juga IPNM tercatat di angka 20,26 juta orang. Utilisasi IPNM pada periode Januari hingga Oktober 2025 juga tercatat sebesar 61,2%. Kemudian, sektor IPNM juga tercatat menyumbang ekspor hingga 80,25% pada periode Januari-Oktober 2025.
Di samping itu, Agus juga menyampaikan beberapa subsektor IPNM dengan kinerja terkuat pada periode Januari-September 2025. Adapun industri logam dasar (tumbuh 16,04% c to c), industri mesin dan perlengkapan (tumbuh 9,97% c to c), industri pengolahan lainnya (tumbuh 9,55% c to c), industri kimia farmasi, dan obat-tradisional (tumbuh 8,24% c to c), industri makanan dan minuman (tumbuh 6,23% c to c), industri barang galian bukan logam (tumbuh 5,17% c to c) merupakan industri yang terbilang sehat di 2025.
Agus juga menegaskan bahwa terdapat empat subsektor IPNM yang bakal menjadi perhatian Kemenperin untuk 2026 karena pertumbuhannya pada tahun ini mengalami kontraksi yang cukup dalam.
Adapun subsektor IPNM yang mengalami kontraksi tersebut antara lain adalah industri pengolahan tembakau (minus 0,11% c to c), industri karet, barang dari karet dan plastik (minus 1,13% c to c), industri alat angkutan (minus 1,95% c to c), serta industri kayu, barang dari kayu dan gabus dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sebagainya. (E-3)




