Harga Minyak Catat Penurunan Tahunan Terdalam sejak 2020

idxchannel.com
11 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak turun pada Rabu (31/12/2025) dan mencatat penurunan tahunan hampir 20 persen.

Harga Minyak Catat Penurunan Tahunan Terdalam sejak 2020. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak turun pada Rabu (31/12/2025) dan mencatat penurunan tahunan hampir 20 persen.

Penurunan harga minyak tersebut seiring meningkatnya ekspektasi kelebihan pasokan dalam setahun yang diwarnai perang, kenaikan tarif, peningkatan produksi OPEC+, serta sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela.

Baca Juga:
S&P 500 Menguat 16 Persen pada 2025, Nasdaq dan Dow Jones Tumbuh Dua Digit

Kontrak berjangka minyak Brent merosot sekitar 19 persen sepanjang 2025, menjadi penurunan persentase tahunan terdalam sejak 2020 sekaligus tahun ketiga berturut-turut mencatat pelemahan, rentang terpanjang dalam sejarah.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) membukukan penurunan tahunan hampir 20 persen.

Baca Juga:
Warren Buffett Resmi Mundur Sebagai CEO Berkshire Hathaway

Pada hari perdagangan terakhir tahun ini, Rabu, Brent ditutup di USD60,85 per barel, turun 0,8 persen. Adapun WTI AS melemah 0,9 persen ke level USD57,42 per barel.

Analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying, dikutip Reuters, memperkirakan harga Brent turun ke kisaran USD55 per barel pada kuartal I-2026, sebelum pulih ke sekitar USD60 per barel untuk sisa 2026, seiring pertumbuhan pasokan yang mulai normal dan permintaan yang relatif datar.

Baca Juga:
Kinerja Pasar Komoditas: Perak Bersinar di 2025, Kalahkan Platinum hingga Emas

“Alasan kami lebih bearish dibanding pasar dalam jangka pendek adalah karena kami menilai produsen shale AS mampu melakukan lindung nilai pada level harga yang tinggi,” ujarnya.

Ying menambahkan, “Dengan demikian, pasokan dari produsen shale akan lebih konsisten dan tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harga.”

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan stok minyak mentah AS turun pada pekan lalu, namun persediaan distilat dan bensin justru meningkat lebih besar dari perkiraan.

“Laporan ini memang sedikit mendukung dari sisi penurunan stok minyak mentah, tetapi isi detailnya kurang menggembirakan. Januari dan Februari kemungkinan akan berat setelah musim liburan berlalu,” kata Mitra Again Capital Markets, John Kilduff.

EIA mencatat persediaan minyak mentah turun 1,9 juta barel menjadi 422,9 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Desember.

Angka ini lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan penurunan 867.000 barel.

Sebaliknya, stok bensin AS naik 5,8 juta barel menjadi 234,3 juta barel, jauh di atas ekspektasi kenaikan 1,9 juta barel.

Persediaan distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, juga meningkat 5 juta barel menjadi 123,7 juta barel, melampaui proyeksi kenaikan 2,2 juta barel.

Produksi minyak AS mencapai rekor tertinggi pada Oktober, menurut data terbaru EIA.

Pasar minyak sempat mengawali 2025 dengan kuat ketika mantan Presiden AS Joe Biden mengakhiri masa jabatannya dengan memberlakukan sanksi yang lebih ketat terhadap Rusia, sehingga mengganggu pasokan ke pembeli utama seperti China dan India.

Dampak perang di Ukraina terhadap pasar energi semakin terasa setelah serangan drone Ukraina merusak infrastruktur Rusia dan mengganggu ekspor minyak Kazakhstan.

Konflik Iran-Israel yang berlangsung selama 12 hari pada Juni turut menambah ancaman terhadap pasokan dengan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak global, yang sempat memicu lonjakan harga.

Dalam beberapa pekan terakhir, produsen terbesar OPEC, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terseret dalam krisis terkait Yaman.

Presiden AS Donald Trump juga memerintahkan pemblokiran ekspor minyak Venezuela dan mengancam serangan lanjutan terhadap Iran.

Namun, harga minyak kembali melemah setelah OPEC+ mempercepat peningkatan produksinya tahun ini, serta meningkatnya kekhawatiran dampak tarif AS terhadap pertumbuhan ekonomi global dan permintaan bahan bakar.

OPEC+, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, menunda kenaikan produksi minyak pada kuartal pertama 2026, setelah melepas sekitar 2,9 juta barel per hari ke pasar sejak April. Pertemuan OPEC+ berikutnya dijadwalkan pada 4 Januari.

Sebagian besar analis memperkirakan pasokan akan melampaui permintaan tahun depan, dengan estimasi berkisar dari 3,84 juta barel per hari versi Badan Energi Internasional (IEA) hingga 2 juta barel per hari menurut Goldman Sachs.

“Jika harga benar-benar jatuh cukup dalam, saya membayangkan akan ada pemangkasan produksi dari OPEC+,” ujar Kepala Strategi Minyak Global Morgan Stanley, Martijn Rats.

Rats melanjutkan, “Namun kemungkinan harga perlu turun lebih jauh dari level saat ini—mungkin ke kisaran USD50-an rendah. Jika harga saat ini bertahan, setelah jeda pada kuartal pertama, mereka kemungkinan akan melanjutkan pencabutan pemangkasan tersebut.”

Sementara itu, Direktur Pelaksana konsultan JTD Energy, John Driscoll, menilai risiko geopolitik masih berpotensi menopang harga minyak meski fundamental pasar mengarah pada kelebihan pasokan.

“Semua orang mengatakan harga akan melemah menuju 2026 dan bahkan setelahnya,” katanya.

Namun, kata dia, faktor geopolitik tidak bisa diabaikan, dan faktor Trump akan terus berperan karena dia ingin terlibat dalam hampir semua isu. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Seluruh Laga Piala Dunia 2026 Bisa Ditonton Gratis oleh Masyarakat Indonesia
• 18 jam lalugenpi.co
thumb
Berita Populer: Rumor Honda Brio RS Stop Dijual; Arus Balik Libur Tahun Baru
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Sore yang Tak Ingin Cepat Gelap
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Polda Metro Tangani 1.951 Kasus Penipuan Online Sepanjang 2025, Kerugian Capai Rp 929 Miliar
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Jadwal Lengkap Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia Futsal 2026
• 6 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.