Zaitunah: Nexus Peradaban antara Timur dan Barat

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di tengah labirin kota Tunis yang dipenuhi aroma rempah dan suara azan berkumandang, berdiri sebuah masjid yang telah menyaksikan pergulatan intelektual selama 13 abad. Masjid Al-Zaitunah—yang berarti "pohon zaitun" dalam bahasa Arab—bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan juga saksi bisu lahirnya para pemikir besar yang mengubah wajah peradaban dunia.

Didirikan pada tahun 737 Masehi—bertepatan dengan 120 Hijriah—Universitas Al-Zaitunah memiliki klaim sebagai institusi pendidikan tinggi tertua di dunia. Sejarawan terkemuka Tunisia, Hassan Hosni Abdelwahab, dalam penelitiannya menegaskan bahwa Masjid Zaitunah adalah lembaga pengajaran paling awal dan tertua yang didirikan di dunia Arab.

Klaim ini menciptakan perdebatan akademis yang menarik, mengingat Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko yang didirikan pada 859 M sering disebut sebagai universitas tertua oleh Guinness World Records dan UNESCO.

Polemik tentang status "tertua" ini sebenarnya menyimpan kompleksitas definisi. Al-Zaitunah memang dimulai lebih dulu sebagai masjid yang memberikan pengajaran sistematis sejak abad ke-8, tetapi transformasi formalnya menjadi universitas baru terjadi pada 1961.

Sementara itu, Al-Qarawiyyin mendapat pengakuan karena kontinuitas operasionalnya yang lebih terorganisir secara kelembagaan. Terlepas dari perdebatan ini, yang tak terbantahkan adalah peran monumentalnya dalam membentuk arsitektur intelektual dunia Islam dan Eropa.

Yang membuat Al-Zaitunah istimewa bukanlah sekadar usianya, melainkan juga posisinya yang unik sebagai titik pertemuan peradaban. Terletak di Tunisia—negara yang menjadi gerbang antara Mediterania dan Afrika Utara—universitas ini menjadi tempat bertemunya tradisi intelektual Timur dan Barat. Para sarjana dari Spanyol, Italia, dan seluruh penjuru dunia Islam berkumpul di sini, menciptakan ekosistem pemikiran yang dinamis.

Tidak mengherankan bila universitas ini mengadopsi motto yang diambil dari Al-Quran: lā sharqīyah wa lā gharbīyah (tidak Timur dan tidak Barat). Semangat universalisme ini bukan sekadar slogan, melainkan juga jiwa yang mengalir dalam setiap praktik keilmuannya. Al-Zaitunah membuktikan bahwa pengetahuan sejati melampaui sekat geografis dan identitas budaya.

Peran Al-Zaitunah sebagai jantung intelektual "Islam Barat" tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari Kairouan dan Tunis, universitas ini memainkan peran sentral dalam membangun peradaban Islam yang tidak hanya menguasai wilayah geografis, tetapi juga memancarkan ilmu pengetahuan, filsafat, sains, dan seni yang rantai keilmuannya kelak menjangkau Eropa. Pengaruhnya melampaui batas Tunisia sendiri, menciptakan jejaring intelektual yang menghubungkan Maghrib dengan seluruh dunia Islam.

Dari tradisi keilmuan, Al-Zaitunah inilah melahirkan para intelektual besar yang menyebarkan ilmu ke berbagai penjuru. Fatima Al-Fihri—yang ayahnya berasal dari Kairouan dan mendapat pendidikan dalam tradisi mazhab Malikiyah di wilayah ini—kemudian berpindah ke Fez, Maroko. Di sana, pada 859 M, ia mendirikan Masjid Al-Qarawiyyin yang kelak berkembang menjadi universitas—sebuah institusi yang dibangun dengan model Al-Zaitunah sebagai inspirasinya.

Sementara itu, Dinasti Fatimiyah—kekuatan politik Syiah Ismailiyah yang berasal dari Mahdia, Tunisia—membawa tradisi keilmuan serupa ketika mereka memindahkan ibu kota kekuasaan ke Mesir pada 969 M. Mereka membangun Kairo dan mendirikan Al-Azhar pada 970 M sebagai masjid dan pusat pembelajaran.

Al-Qarawiyyin maupun Al-Azhar berkembang menjadi simbol dan ruang transisi ilmu—tidak hanya dalam ranah keagamaan, tetapi juga dalam konteks kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan secara umum. Model pendidikan yang diterapkan keduanya meneladani Al-Zaytuna, dengan mengintegrasikan ilmu agama, sains, dan filsafat dalam satu kesatuan kurikulum.

Dari dinding-dinding Zaitunah inilah lahir tokoh-tokoh yang mengubah cara manusia memahami dunia. Ibn Khaldun, sang bapak sosiologi modern, mengasah pemikirannya di sini sebelum menulis Muqaddimah yang revolusioner.

Menurut Ibn Khaldun sendiri dalam tulisannya, Al-Zaitunah pada abad ke-14 dan 15 merupakan institusi pengajaran terkemuka di wilayah Maghrib Islam. Pemikirannya tentang dinamika sosial dan siklus peradaban yang dipelajarinya di Al-Zaitunah kemudian menjadi fondasi ilmu sosiologi dan ekonomi modern yang dipelajari hingga hari ini.

Bukan hanya ilmu sosial yang berkembang di sini. Kurikulum Al-Zaitunah mencakup spektrum pengetahuan yang luas dan progresif untuk zamannya. Tafsir Al-Quran, fikih Islam, tata bahasa Arab, sejarah, sains, matematika, kedokteran, astronomi, hingga filsafat diajarkan dengan metode yang mendorong pemikiran kritis.

Sistem pengajarannya pun unik untuk zamannya—tidak ada kehadiran wajib, mahasiswa bebas memilih mata kuliah sesuai minat, dan sertifikat ijazah diberikan ketika seorang murid dianggap cukup menguasai suatu bidang untuk mengajarkannya.

Perpustakaan Al-Abdaliyah di kompleks Zaitunah menyimpan ribuan manuskrip langka—dari tafsir Quran hingga astronomi—sebelum dipindahkan ke Perpustakaan Nasional Tunis. Sayangnya, saat Spanyol menduduki Tunis tahun 1535, banyak manuskrip berharga Zaitunah dijarah atau dihancurkan. Namun, era Kesultanan Ottoman membawa kebangkitan baru, terutama abad ke-18 di bawah patronase Dinasti Husainid.

Peran Al-Zaitunah sebagai jembatan peradaban semakin nyata ketika Tunisia berada di bawah protektorat Prancis. Ironisnya, penjajah yang mencoba meminggirkan institusi ini justru tidak menyadari bahwa mereka sedang memfasilitasi hibridisasi intelektual yang unik.

Al-Zaitunah menjadi benteng perlawanan budaya sekaligus laboratorium sintesis pemikiran Islam dan Barat. Reformasi kurikulum pada 1896 memperkenalkan fisika, ekonomi politik, dan bahasa Prancis ke dalam sistem pengajaran tradisional, menciptakan generasi intelektual Muslim yang menguasai dua tradisi pemikiran sekaligus.

Hingga kini, Universitas Al-Zaitunah modern mewarisi semangat sintesis itu. Dengan sekitar 2.294 mahasiswa dan 144 dosen yang terbagi dalam Institut Teologi, Institut Peradaban Islam, dan Pusat Studi Islam di Kairouan, universitas ini terus menjadi kutub pertemuan antara metodologi Barat dan khazanah keilmuan Timur.

Menariknya sekitar 300 mahasiswa Indonesia kini sedang menimba ilmu di Al-Zaitunah, tersebar baik di kampus Tunis maupun Kairouan—sebuah bukti bahwa jembatan intelektual antara Nusantara dan Maghrib masih hidup hingga hari ini. Mahasiswa di sini tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga dilatih dengan metodologi penulisan ilmiah modern yang menuntut kemampuan analisis kritis, bukan sekadar hafalan.

Banyak institusi pendidikan Islam di Indonesia yang kini menjalin kerja sama dengan Al-Zaitunah. Rektor Universitas Zaitunah, Prof. Dr. Abdullatif Bouazizi—dalam kunjungannya ke berbagai universitas Islam Indonesia—menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara perkembangan pendidikan ala Barat dengan peradaban klasik Timur Tengah. Ini menunjukkan bahwa peran Al-Zaitunah sebagai jembatan intelektual masih relevan hingga abad ke-21.

Perdebatan tentang universitas mana yang "paling tua" mungkin akan terus berlanjut. Namun, yang lebih penting adalah mengakui kontribusi Al-Zaitunah dalam menciptakan dialog peradaban yang melahirkan ilmu pengetahuan lintas batas.

Dari ruang-ruang kelasnya—yang sederhana di bawah lengkungan Masjid Al-Zaitunah—lahir pemikiran-pemikiran yang menyeberangi Mediterania, memengaruhi Renaissance Eropa, dan membentuk dunia modern yang kita tinggali hari ini.

Al-Zaitunah mengajarkan kita bahwa pengetahuan sejati tidak mengenal sekat geografis atau budaya. Ia adalah aliran yang mengalir dari satu peradaban ke peradaban lain, memperkaya siapa pun yang mereguk darinya.

Dan di sinilah letak kebesaran sejati Al-Zaitunah—bukan pada klaim sebagai yang "tertua", melainkan pada kemampuannya menjadi nexus tempat ide-ide dari Timur dan Barat bertemu, berdialog, dan melahirkan pencerahan baru bagi umat manusia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga BBM Terbaru Berlaku 1 Januari 2026: Pertamina, Shell, BP-AKR, dan Vivo Kompak Naikkan Tarif
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Malam Tahun Baru di Sydney Diwarnai Momen Hening untuk Korban Serangan Bondi
• 22 jam laludetik.com
thumb
Komisi VII DPR minta TVRI gesa pembenahan layanan jelang Piala Dunia
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
BNPB Sebut Jumlah Pengungsi Bencana Sumatera Berkurang, Jadi 378.164 Orang
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
FKMPI Salurkan Bantuan untuk Perkuat Pemulihan Warga Terdampak Banjir di Padang
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.