Nilai tukar rial Iran pada Minggu (28/12/2025) anjlok hingga 1.420.000 rial per dolar AS, lalu pada Senin sedikit menguat menjadi 1.380.000 rial per dolar AS
Iran pada pekan ini dilanda aksi protes rakyat berskala besar, yang disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Pemogokan dan aksi perlawanan terjadi di berbagai daerah. Mahasiswa Universitas Teheran turun ke jalan sambil meneriakkan slogan “Tumbangkan diktator”. Polisi menembakkan gas air mata, sementara bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan terus terjadi di pusat kota.
EtIndonesia. Krisis ekonomi Iran yang terus memburuk menjadi pemicu utama gelombang protes kali ini. Mata uang Iran, rial, anjlok tajam, inflasi melonjak, ditambah kenaikan harga minyak, sehingga tekanan hidup masyarakat meningkat drastis. Dunia internasional menaruh perhatian besar pada apakah gejolak ini akan menggoyahkan fondasi rezim Islam Iran.
Video yang beredar menunjukkan aksi protes besar-besaran meletus di seluruh Iran. Ketika pasukan keamanan mundur, mahasiswa Universitas Teheran meneriakkan, “Tumbangkan diktator!” Para demonstran kemudian bergerak maju menuju gerbang utama kampus. Polisi menembakkan gas air mata ke sejumlah wilayah tempat massa berkumpul.
Rekaman yang diambil di sekitar pasar pusat kota Teheran memperlihatkan bentrokan fisik antara pengunjuk rasa dengan polisi dan pasukan keamanan, termasuk aksi saling dorong dan pelemparan batu.
Gelombang protes dan pemogokan kini menyapu hampir seluruh Iran, termasuk Teheran, Shiraz, Isfahan, Karaj, Mashhad, Ahvaz, dan kota-kota lainnya.
Pasar-pasar di berbagai daerah juga ikut melakukan mogok. Dengan alasan cuaca dingin, otoritas Iran mengumumkan bahwa setidaknya 17 provinsi akan menutup kantor pemerintahan, sekolah, universitas, dan bank pada Rabu (31 Desember).
Pada Selasa (30 Desember), aksi protes telah meluas ke banyak universitas di seluruh negeri. Juru bicara pemerintah menyatakan akan membentuk mekanisme dialog, termasuk perundingan antara pemerintah dan para pemimpin protes. Kepala otoritas pajak juga mengumumkan bahwa pemerintah akan merevisi pengaturan perpajakan dan menghapus sanksi atas keterlambatan pembayaran pajak.
Di bawah sanksi Amerika Serikat, ekonomi Iran terus terpuruk. Presiden AS Donald Trump pada Senin (29 Desember), dalam konferensi pers bersama di Mar-a-Lago, menyatakan bahwa jika Teheran kembali melanjutkan program rudal balistik atau senjata nuklir, Amerika Serikat kemungkinan akan mendukung Israel untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran.
Presiden AS Donald Trump berkata: “Berbicara tentang Iran, saya berharap mereka tidak mencoba kembali memperluas persenjataan, karena jika itu terjadi, kami tidak akan punya pilihan selain segera menghancurkan hasil perluasan tersebut.”
Pada Senin, Gubernur Bank Sentral Iran mengumumkan pengunduran dirinya, dan gubernur baru mulai menjabat pada Selasa. Nilai tukar rial Iran pada Minggu lalu anjlok hingga 1.420.000 rial per dolar AS, lalu pada Senin sedikit menguat menjadi 1.380.000 rial per dolar AS.
Depresiasi tajam mata uang ini memperparah tekanan inflasi, mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok seperti pangan, sehingga anggaran rumah tangga semakin terhimpit. Situasi diperburuk oleh penyesuaian harga bensin yang baru-baru ini diberlakukan.
Data Pusat Statistik Nasional Iran menunjukkan bahwa tingkat inflasi pada bulan Desember naik 42,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ini merupakan aksi protes rakyat terbesar di Iran sejak tahun 2022. Pada tahun tersebut, kematian seorang perempuan berusia 22 tahun, Mahsa Amini, saat berada dalam tahanan polisi, memicu gelombang demonstrasi nasional. Ia ditangkap oleh polisi moral Iran karena dianggap tidak mengenakan jilbab dengan benar.
Para pedagang pasar pernah memainkan peran kunci dalam Revolusi Islam 1979, yang membawa kelompok Islamis berkuasa di Iran. Oleh karena itu, keterlibatan para pedagang pasar dalam gelombang pemogokan kali ini menarik perhatian luas. (Hui)
Reporter New Tang Dynasty Television, Zhao Fenghua, laporan gabungan.


