Bisnis.com, SEMARANG — Tahun 2025 menjadi tahun yang cukup berat untuk sektor perekonomian Indonesia. Meski turut merasakan dampak dari penurunan daya beli masyarakat, kinerja sektor ekonomi kreatif di Kota Semarang tidak sepenuhnya terdampak justru tetap tumbuh yang ditopang oleh sejumlah sektor. Sektor ekonomi yang berkaitan dengan pariwisata dan konten digital mampu menunjukkan ketahanan hingga pertumbuhan.
Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Semarang Fandhi Nugroho Lufti mengatakan bahwa penurunan daya beli masyarakat pada tahun 2025 ini cukup berdampak pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Semarang. Meski demikian, Fandhi menyebut bahwa dampak signifikan hanya dirasakan oleh sejumlah segmen tertentu, khususnya produk tersier.
“Kalau yang kami lihat itu tidak terlalu berdampak signifikan, hanya beberapa segmen-segmen UMKM tertentu yang memang sangat-sangat signifikan. Untuk subsektor yang terdampak itu lebih berkaitan dengan produk-produk tersier, seperti contohnya mungkin teman-teman UMKM Sentra Logam, itu mungkin tidak terlalu dibutuhkan,” jelas Fandhi, dikutip Rabu (31/12/2025).
Di sisi lain, Fandhi menyebut bahwa subsektor kuliner kini menjadi salah satu sektor yang sedang mengalami kebangkitan sekaligus pertumbuhan seiring dengan meningkatnya aktivitas pariwisata di Kota Semarang menjelang periode liburan akhir tahun. Menurutnya, saat ini wisatawan lebih mencari pengalaman dalam menikmati destinasi wisata dan kuliner dibandingkan berbelanja produk lain. “Karena mereka ingin menikmati wisatanya, jadi kuliner-kuliner di Kota Semarang malah justru tumbuh,” tambah Fandhi.
Tidak hanya di subsektor kuliner, Fandhi mengungkap bahwa kebutuhan terhadap konten digital juga mengalami peningkatan selama periode liburan. Permintaan terhadap konten digital ini disebut datang dari berbagai pihak yang membutuhkan materi promosi kreatif. “Sektor konten digital itu juga ada demand yang cukup tinggi karena di momentum liburan seperti ini, ternyata konten-konten digital juga cukup dibutuhkan bagi beberapa agensi dan partner untuk mempromosikan hal-hal kreatif yang mereka punya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fandhi melihat bahwa selama satu tahun ini ekosistem ekonomi kreatif di Kota Semarang menunjukkan perkembangan yang positif. Sepanjang tahun 2025, kinerja ekonomi kreatif tidak lepas dari program Pemerintah Kota Semarang, salah satunya adalah program prioritas untuk meningkatkan daya saing lokal, sehingga ekonomi kreatif di Kota Semarang semakin berkembang dan variatif.
Tunjukkan perkembangan yang positif, beberapa subsektor ekonomi kreatif seperti animasi, game, dan ilustrasi kini makin terlihat menonjol, di mana sebelumnya subsektor tersebut tidak terlalu terlihat. Selain subsektor yang sudah ada, Fandhi menyebut bahwa Artificial Intelligence (AI) diperkirakan akan menjadi subsektor tambahan seiring dengan perkembangan teknologi saat ini. Kehadiran AI pada perkembangan teknologi, dinilai Fandhi bisa menjadi sebuah pendorong kreativitas dan produktivitas, bukan sebagai ancaman yang perlu dihentikan.
“Saya rasa AI itu mendominasi sekarang hampir di semua subsektor, mulai dari film, konten-konten digital, ilustrasi, animasi, hingga musik. Kemarin kami sudah berbicara dengan teman-teman komunitas musik pun mereka tidak terlalu terganggu dengan AI. justru kami sepakat bahwa tren AI ini harus menjadi support, harus menjadi pendorong kreativitas, bukan malah yang kita lihat ini sebagai ancaman yang harus kita cut, kita tidak seperti itu,” jelasnya.
Menutup tahun 2025, Fandhi menyebut bahwa KEK Kota Semarang telah melakukan evaluasi internal seiring dengan arahan sinkronisasi kebijakan dari pemerintah pusat. Fandhi juga menegaskan bahwa KEK akan memperkuat peran mereka sebagai orkestrator dengan mendorong komunitas ekonomi kreatif agar dapat kembali aktif berkolaborasi, sementara aspek teknis dijalankan langsung oleh pelaku komunitas di tingkat grassroots. Terkait perencanaan ekonomi kreatif, penyusunan program prioritas akan diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang agar pengembangan ekonomi kreatif pada tahun 2026 dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. (Fadya Jasmin Malihah)


