Film Avatar: Fire and Ash dapat dibaca bukan semata sebagai kelanjutan kisah epik Pandora, melainkan sebagai pesan komunikasi global tentang krisis peradaban. Judul "Fire and Ash" sendiri adalah metafora yang kuat: api sebagai simbol ambisi, ekspansi, dan konflik, sementara abu melambangkan sisa kehancuran, trauma sosial, dan dampak jangka panjang dari keputusan pembangunan.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, film ini bekerja sebagai teks ideologis yang membentuk cara publik memahami relasi antara manusia, alam, dan kekuasaan.
Dalam kajian komunikasi massa, film dipahami sebagai agen konstruksi realitas sosial. Berger dan Luckmann (1966) menegaskan bahwa realitas tidak hadir secara alamiah, tetapi dibangun melalui proses simbolik dan komunikasi yang berulang. Avatar—sejak film pertamanya—secara konsisten membangun narasi bahwa krisis lingkungan bukanlah kecelakaan, melainkan konsekuensi dari cara berpikir hegemonik tentang “kemajuan”.
Fire and Ash memperdalam narasi tersebut dengan menghadirkan konflik yang tidak lagi hitam-putih: masyarakat Pandora sendiri digambarkan terpecah, emosional, dan rapuh ketika menghadapi tekanan ekologis dan politik.
Dari sudut pandang semiotika komunikasi, api dan abu tidak berdiri sebagai elemen visual semata, tetapi sebagai tanda (sign) yang sarat makna. Roland Barthes (1977) menjelaskan bahwa simbol dalam teks budaya selalu membawa pesan ideologis yang bekerja di tingkat mitos.
Api dalam Avatar: Fire and Ash dapat dibaca sebagai mitos pembangunan yang agresif cepat, maskulin, dan eksploitatif sementara abu adalah mitos tentang biaya sosial yang sering disembunyikan: hilangnya ruang hidup, identitas, dan solidaritas. Pesan ini menjadi sangat relevan ketika dikontekstualisasikan dengan praktik pembangunan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konteks Indonesia, narasi film ini beresonansi kuat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang secara resmi diadopsi oleh Indonesia. SDGs menempatkan pembangunan berkelanjutan bukan hanya sebagai target ekonomi, melainkan juga sebagai proses komunikasi lintas aktor.
SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim, misalnya, menuntut bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan juga komunikasi publik yang mampu mengubah perilaku dan kesadaran masyarakat. Film Avatar menunjukkan bahwa tanpa perubahan cara berkomunikasi tentang alam, kebijakan lingkungan akan selalu kalah oleh narasi keuntungan jangka pendek.
Lebih jauh, Fire and Ash juga merefleksikan SDG 15 tentang ekosistem daratan. Konflik yang muncul di Pandora menggambarkan bagaimana eksploitasi sumber daya sering kali dibenarkan melalui bahasa pembangunan dan kemajuan.
Dalam studi komunikasi pembangunan, Servaes (2008) menekankan pentingnya pendekatan partisipatif di mana masyarakat lokal tidak hanya menjadi objek pesan, tetapi subjek komunikasi. Ketika komunikasi gagal bersifat dialogis, yang muncul bukan kesejahteraan, melainkan perlawanan dan konflik, sebagaimana divisualisasikan dalam kehancuran Pandora.
Dimensi lain yang tak kalah penting adalah keterkaitan film ini dengan SDG 16 tentang perdamaian dan keadilan. Konflik internal antarkelompok Na’vi dapat dibaca sebagai metafora dari konflik horizontal yang kerap terjadi akibat ketimpangan informasi dan eksklusi komunikasi.
Dalam konteks Indonesia, banyak konflik agraria dan lingkungan bukan berawal dari niat buruk semata, melainkan dari absennya ruang dialog yang setara antara negara, korporasi, dan masyarakat adat. Avatar: Fire and Ash mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak mungkin tercapai tanpa keadilan komunikasi.
Namun, penting juga untuk bersikap kritis. Sebagai produk budaya populer Hollywood, Avatar berpotensi menyederhanakan kompleksitas dunia nyata dan menciptakan ilusi kepedulian semu. Corner dan Pels (2003) menyebut fenomena ini sebagai politik representasi di mana empati visual tidak selalu berujung pada perubahan struktural.
Oleh karena itu, film ini seharusnya tidak diposisikan sebagai jawaban, tetapi sebagai pemantik diskusi kritis, terutama dalam konteks literasi media dan pendidikan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Pada akhirnya, Avatar: Fire and Ash berbicara tentang satu pesan mendasar: krisis lingkungan adalah krisis komunikasi. Api akan terus menyala selama pembangunan dikomunikasikan sebagai dominasi dan abu akan terus berjatuhan selama suara yang terdampak tidak dilibatkan.
Bagi Indonesia yang sedang menapaki jalan menuju pencapaian SDGs, film ini menjadi cermin reflektif bahwa masa depan berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan regulasi, tetapi oleh keberanian membangun komunikasi yang adil, inklusif, dan berorientasi pada kemanusiaan.





