China resmi menerapkan kuota impor untuk daging sapi. Beberapa negara penyuplai daging sapi ke China seperti Brasil hingga Australia dinilai akan terdampak.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (1/1), aturan tersebut mulai berlaku hari ini. Nantinya jika ada impor daging sapi yang melebihi batas akan dikenakan bea masuk sebesar 55 persen.
Kementerian Perdagangan China menerapkan aturan tersebut karena peningkatan impor daging sapi dinilai akan merugikan industri dalam negeri China. Aturan itu juga diambil setelah penyelidikan yang dimulai sejak Desember 2024 selesai dilakukan.
Dari data Bea dan Cukai China, negara tersebut telah mengimpor 2,6 juta ton daging sapi dari awal 2025 hingga November lalu. Meski demikian, total kuota impor masih akan meningkat secara bertahap setiap tahun dari 2,69 juta ton pada tahun 2026 menjadi 2,74 juta ton pada tahun 2027 dan 2,8 juta ton pada tahun 2028.
Negara Penyuplai Sapi Kena DampaknyaNegara yang berpotensi paling besar terdampak kebijakan tersebut adalah Brasil. Negara tersebut merupakan penyuplai terbesar daging sapi ke China dengan volume mencapai 1 juta ton ekspor daging sapi ke China dalam periode Januari-September 2025 atau hampir setengah dari total ekspor daging sapi Brasil.
Dengan adanya aturan baru, kuota ekspor daging sapi Brasil ke China 2026 berada di bawah 1 juta ton. Brasil berpotensi kehilangan pendapatan hingga USD 3 miliar akibat kebijakan tersebut. Asosiasi eksportir daging Brasil menyebut aturan itu juga membuat para eksportir perlu melakukan penyesuaian.
“Penyesuaian akan diperlukan di seluruh rantai, dari produksi hingga ekspor, untuk menghindari dampak yang lebih luas,” respons asosiasi tersebut.
Sebagai respons, Menteri Pertanian Brasil, Carlos Favaro juga akan melakukan diskusi mengenai detail aturan kuota daging sapi dengan China.
Selain Brasil, Argentina dan Australia menempati posisi kedua dan ketiga sebagai eksportir daging sapi terbesar ke China.
Ekspor daging sapi Argentina ke China dalam periode Januari-November 2025 mencapai 436 ribu ton. Meski ada aturan kuota impor dari China, pada tahun 2026 kuota yang ditetapkan China justru bertambah yakni di angka 511 ribu ton.
Sementara Australia yang dalam periode yang sama telah mengekspor 295 ribu ton, kuota 2026 yang didapatkan Australia dari China untuk ekspor daging sapi ke China hanya 205 ribu ton. Untuk itu, Australian Meat Industry Council (AMIC) mengaku kecewa dengan aturan yang diterapkan China.
“Keputusan ini akan berdampak buruk pada arus perdagangan ke China selama masa pemberlakuan langkah-langkah tersebut. Impor daging sapi Australia bukanlah penyebab kerusakan pada industri daging sapi domestik di China,” kata CEO AMIC, Tim Ryan.
Amerika Serikat (AS) juga menjadi eksportir terbesar daging sapi ke China yang ada di urutan kelima dengan ekspor dalam periode yang sama mencapai 55 ribu ton,
Meski begitu, dampaknya bagi AS tak akan signifikan karena kuota yang ditetapkan China kepada AS di tahun 2026 adalah 164 ribu ton dan akan terus meningkat menjadi 168 ribu ton pada 2027 dan 171 ribu ton pada 2028.



