Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengaku mendengar kritik dari publik, terkait kedatangan para menterinya di daerah bencana. Khususnya bencana tanah longsor dan banjir Sumatera.
Dalam pandangan Prabowo, para menteri dalam posisi yang dilematis. Bahkan, Presiden menyebut serba salah. Presiden menegaskan, kedatangan para menteri ke wilayah tersebut bukan ikut kegiatan yang bersifat lapangan.
Advertisement
“Saya pernah dengar ada kritik begini. Untuk apa menteri datang ke tempat bencana? Hanya datang melihat. Ya saudara-saudara, serba susah. Menteri tidak datang, dibilang tidak peduli. Masa menteri ikut macul? bukan itu,” ujar Prabowo saat rapat terbuka usai meninjau hunian untuk korban bencana di Aceh Tamiang yang dibangun oleh Danantara, seperti dikutip dari siaran daring Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (1/1/2026).
Kepala Negara menuturkan, kehadiran para menteri di lokasi bencana untuk melakukan observasi. Berujung keluarnya kebijakan untuk penanganan bencana.
“Pejabat datang, pemimpin datang, datang melihat apa kekurangan, apa masalah, apa yang bisa kita bantu, mana yang kita bisa percepat,” ucapnya.
Prabowo meyakini, rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti. Karenanya, pembangunan hunian terhadap korban bencana dilakukan dalam rangka pembuktian. Bukti dari hasil observasi kedatangan para menteri ke lokasi bencana untuk belanja persoalan dan solusi.
“Jadi kalau ada menteri-menteri pejabat turun itu dia tidak turun untuk wisata, dia datang, dia melihat. Mencatat, mengerti, mengambil keputusan. Kan demikian,” jelas Prabowo.
Prabowo mencatat, hari ini Danantara membuktikan bahwa dalam delapan hari bisa membangun 600 hunian. Ke depan, dalam beberapa bulan mendatang diyakini jumlahnya akan terus bertambah menjadi 15 ribu hunian dan tersebar di tiga provinsi, Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
“Fokus kita adalah bagaimana kita bisa mengurangi, meringankan penderitaan rakyat kita. Itu pikiran kita sebagai pejabat dan pemimpin,” tutupnya.



