Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya pemulihan pascabencana yakni dengan mempercepat pembangunan hunian sementara maupun hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatera.
AHY mengatakan, selain berfokus pada pemulihan hunian yang rusak berat, pemerintah juga secara beriringan memperbaiki hunian yang rusak ringan dan sedang. Hal itu agar jumlah warga di pengungsian bisa berangsur-angsur berkurang.
“Memang secara intuisi kita membangun rumah yang rusak berat dulu, bapak. Tetapi sebetulnya kalau kita bisa cepat memperbaiki rumah-rumah yang rusak ringan, justru akan terus mengurangi kamp-kamp pengungsian, karena mereka berarti dengan cepat bisa kembali ke rumah masing-masing,” kata AHY dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang pada Kamis (1/1).
AHY menyebut, fase rekonstruksi setelah fase tanggap darurat menjadi fokus utama kementerian yang berada dalam koordinasi Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Ia menegaskan bahwa sinergi antar kementerian adalah hal penting pada saat rekonstruksi pascabencana.
“Kementerian ATR/BPN contohnya, harus memastikan tata ruangnya, termasuk juga ketersediaan lahan untuk perumahan masyarakat yang dibangun kembali,” jelasnya.
“Lalu Kementerian Pekerjaan Umum tentu bertugas sesuai dengan fungsinya, dan terakhir Kementerian Perumahan Rakyat kita berharap juga bisa segera mempercepat proses pembangunan rumah,” sambungnya.
Berkurangnya jumlah warga terdampak di pengungsian juga sempat diungkapkan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.
Ia menjelaskan, daerah yang dana bantuan huniannya sudah disalurkan, jumlah warga di posko pengungsian berangsur-angsur berkurang.
“Contoh yang paling bagus adalah di Tapanuli Selatan. Tapanuli Selatan sudah memberikan punya data, sudah dapat dari BNPB, langsung dibayarkan. Sehingga yang di pengungsian itu kemarin Bapak mungkin mendengar laporan tadi malam, dari 21.000 hanya tinggal 4.000 saja,” ungkapnya di ratas tersebut.
Sementara secara keseluruhan, Tito menyebutkan dari tiga provinsi terdampak, ada sekitar 213 ribu rumah yang mengalami kerusakan.
“Data yang kami terima untuk tiga daerah provinsi, itu rusak ringan 68.850, rusak sedang 37.520, rusak berat 56.108. Itu per data per tanggal 27 Desember,” terang Tito.




