Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas dan perak tergelincir pada hari perdagangan terakhir tahun 2025. Namun, pelemahan ini tak menghapus fakta bahwa kedua logam ini menutup tahun dengan lonjakan tahunan terbesar dalam lebih dari 40 tahun.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot berakhir melemah 0,46% atau 20,12 poin ke level US$4.419,27 per troy ounce pada akhir perdagangan Rabu (31/12/2025). Harga emas berjangka Comex AS juga melemah 1,03% ke level US$4.341,1 per troy ounce.
Sementara itu, harga perak di pasar spot mengakhiri perdagangan dengan pelemahan tipis 0,01% ke level US$71,66 per troy ounce.
Volatilitas ekstrem mewarnai perdagangan tipis pascalibur Natal. Harga anjlok pada Senin (29/12), pulih Selasa, lalu kembali tertekan pada Rabu. Fluktuasi tajam tersebut mendorong CME Group menaikkan persyaratan margin dua kali dalam hitungan hari.
Kendati melemah, emas dan perak mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979, ditopang lonjakan permintaan aset safe haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta kebijakan pemangkasan suku bunga The Fed.
Harga emas melonjak sekitar 63% sepanjang 2025. Pada September, logam mulia ini melampaui rekor tertinggi yang disesuaikan inflasi dari era 45 tahun silam, ketika tekanan dolar AS dan lonjakan inflasi mendorong harga ke US$850 per ons. Dalam reli kali ini, emas menembus US$4.000 pada awal Oktober.
Baca Juga
- Harga Emas Antam Naik Hampir 70% Sepanjang 2025, Tertinggi di Rp2,6 Juta per Gram
- Harga Emas Perhiasan Awal Tahun 2026 Turun, Termurah Rp412 Ribu per Gram
- Harga Emas Naik 57% pada 2025, Intip Proyeksi untuk 2026
Narasi “debasement trade” yang dipicu kekhawatiran inflasi dan membengkaknya utang negara maju turut menyulut reli agresif harga emas sepanjang tahun.
Kepala analis World Gold Council John Reade mengatakan lonjakan harga emas ini bahkan belum pernah terjadi sepanjang kariernya.
”Rekor demi rekor yang tercipta melampaui ekspektasi pasar,” ungkap Reade seperti dikutip Bloomberg, Kamis (1/1/2026).
Perak bahkan mencatat reli lebih tajam dengan lonjakan hingga 140% sepanjang tahun, didorong spekulasi sekaligus permintaan industri. Logam ini menjadi komponen penting bagi elektronik, panel surya, dan kendaraan listrik. Baik emas dan perak mencatatkan lonjakan tahunan terbesar sejak 1979.
Pada Oktober, harga perak melonjak ke rekor tertinggi sepanjang masa akibat kekhawatiran tarif yang mendorong lonjakan impor ke AS, memperketat pasar London dan memicu fenomena short squeeze.
Reli berlanjut hingga menembus US$80 per ons sebelum akhirnya berbalik arah. Penurunan tajam di awal pekan memaksa CME Group kembali menaikkan margin kontrak berjangka, meningkatkan kebutuhan jaminan bagi pelaku pasar.
Sejumlah spekulan diperkirakan harus mengurangi atau menutup posisi, sehingga menekan harga.
“Pendorong utama saat ini adalah kenaikan margin CME untuk kedua kalinya dalam beberapa hari,” kata CEO Metals Daily Ross Norman. Menurutnya, kebijakan tersebut efektif “mendinginkan” pasar.
Euforia emas dan perak juga merembet ke platinum dan palladium sepanjang 2025. Platinum menembus fase stagnasi bertahun-tahun dan mencetak rekor baru, seiring defisit pasokan yang berlanjut akibat gangguan produksi di Afrika Selatan. Meski harga perak, platinum, dan palladium melemah pada Rabu, antusiasme pasar dinilai belum memudar.
“Kejutan tahun ini adalah bagaimana logam safe haven berubah menjadi instrumen momentum, khususnya perak,” ujar Charu Chanana, kepala strategi pasar Saxo Markets.




