FAJAR, SURABAYA — Sayap Mematikan Persebaya Surabaya: Jika Craig Goodwin dan Victor Luiz Benar-Benar Mendarat di Gelora Bung Tomo
Awal tahun selalu menghadirkan harapan baru bagi Persebaya Surabaya. Bagi Bonek, 2026 bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum untuk keluar dari siklus “nyaris” dan benar-benar melompat ke level berikutnya. Harapan itu tumpah ruah di media sosial—bukan lagi dalam bentuk kritik semata, melainkan daftar nama.
Craig Goodwin dan Victor Luiz.
Dua pemain dengan latar berbeda, pengalaman berbeda, dan karakter berbeda, tetapi disatukan oleh satu bayangan besar: sayap kiri Persebaya yang mematikan dan menakutkan lawan.
Isyarat itu muncul dari unggahan Instagram resmi Persebaya yang merangkum perjalanan klub sepanjang 2025. Di kolom komentar, doa Bonek bercampur dengan harapan yang lebih konkret. Foto Craig Goodwin berseliweran. Nama Victor Luiz diulang-ulang. Sebuah pesan yang terasa jelas: Bonek ingin perubahan yang nyata.
“Tahun baru, pemain baru. Welcome Craig Goodwin,” tulis salah satu akun.
“Ojok lali, awal tahun welcome Craig Goodwin ambek Victor Luiz,” timpal yang lain.
Komentar-komentar itu bukan tanpa alasan.
Craig Goodwin: Sayap Kiri Berkelas Asia
Craig Goodwin bukan nama asing di sepak bola Asia. Pemain sayap kiri tim nasional Australia itu adalah simbol konsistensi dan profesionalisme. Di Adelaide United, ia bukan sekadar pemain inti—ia adalah kapten, pemimpin, dan wajah klub.
Pada usia 34 tahun, Goodwin justru berada di fase matang karier. Ia mungkin tak lagi mengandalkan kecepatan mentah, tetapi pengalaman, kecerdasan posisi, dan kualitas kaki kirinya membuatnya tetap relevan di level tertinggi.
Di timnas Australia, Goodwin dikenal sebagai spesialis bola mati dan pengirim umpan silang akurat. Dalam skema modern, ia adalah tipe winger yang tidak hanya menusuk, tetapi juga mengatur ritme dari sisi lapangan.
Bagi Persebaya Surabaya, kehadiran pemain seperti Goodwin akan menjadi lompatan besar. Selama beberapa musim terakhir, Green Force kerap kesulitan menciptakan ancaman konsisten dari sayap. Serangan sering terputus sebelum mencapai kotak penalti.
Goodwin menawarkan solusi itu.
Namun, tantangan terbesarnya bukan teknis, melainkan administratif. Kontrak Goodwin bersama Adelaide United masih berlaku hingga Juni 2028. Artinya, jika Persebaya serius, mereka harus menempuh jalur yang tidak sederhana: negosiasi transfer bernilai besar atau skema khusus yang membutuhkan keberanian finansial.
Di titik ini, rumor Goodwin masih berada di wilayah mimpi besar Bonek. Tapi sepak bola modern kerap membuktikan bahwa mimpi kolektif suporter bisa berubah menjadi realitas—jika manajemen berani mengambil risiko.
Victor Luiz: Bek Sayap yang Paham Filosofi
Berbeda dengan Goodwin, nama Victor Luiz terasa lebih membumi, tetapi justru lebih realistis. Bek kiri asal Brasil itu sudah lama dikaitkan dengan Persebaya, bahkan sebelum Bernardo Tavares resmi diperkenalkan sebagai pelatih kepala.
Victor bukan sekadar rumor kosong. Ia adalah pemain yang memahami betul filosofi sepak bola Bernardo Tavares. Keduanya pernah bekerja sama di PSM Makassar—dan sukses.
Sebagai bek kiri modern, Victor Luiz dikenal agresif, disiplin, dan progresif. Ia bukan bek yang hanya bertahan, tetapi juga aktif membantu serangan melalui overlap dan cut-in ke half-space.
Dalam sistem Bernardo, bek sayap adalah kunci. Mereka bukan hanya pelapis winger, melainkan motor transisi. Victor paham betul peran itu.
Itulah mengapa namanya terus muncul di radar Persebaya, Arema FC, dan Persik Kediri. Data Transfermarkt bahkan menyebut Persik memiliki peluang terbesar, meski Persebaya tetap dianggap pesaing serius.
Bagi Green Force, mendatangkan Victor berarti mendapatkan bek yang “siap pakai”. Adaptasi tak lagi menjadi isu besar, karena ia sudah mengenal metode latihan, tuntutan taktik, dan ekspektasi sang pelatih.
Jika Keduanya Datang: Sayap yang Menggetarkan
Bayangkan skenario ini: Craig Goodwin berdiri sebagai winger kiri, Victor Luiz di belakangnya sebagai bek sayap. Di satu sisi lapangan, Persebaya memiliki kombinasi pengalaman internasional dan intensitas tinggi.
Goodwin dengan visi, crossing, dan bola matinya. Victor dengan overlap agresif dan stamina tanpa henti.
Kombinasi ini akan memaksa lawan mengambil keputusan sulit: menutup sayap dan membuka ruang di tengah, atau bertahan rapat dan menerima bombardir umpan silang.
Bagi tim-tim Super League yang kerap bertahan rendah saat menghadapi Persebaya, situasi ini akan menjadi mimpi buruk.
Lebih dari itu, kehadiran Goodwin dan Victor akan mengubah identitas permainan Persebaya. Dari tim reaktif menjadi tim yang mendikte permainan dari sisi lapangan.
Tantangan dan Realisme
Tentu saja, tidak semua harapan bisa langsung terwujud. Goodwin masih terikat kontrak panjang. Victor Luiz juga diminati klub lain. Selain itu, Persebaya harus cermat mengatur kuota pemain asing.
Namun satu hal jelas: era Bernardo Tavares membuka ruang bagi perubahan struktural, bukan kosmetik.
Jika Persebaya hanya mendatangkan satu dari dua nama itu—terutama Victor Luiz—itu sudah menjadi langkah maju. Jika keduanya datang, maka itu adalah pernyataan ambisi.
Kini, harapan Bonek menggantung di awal 2026. Apakah sayap kiri mematikan itu akan benar-benar lahir di Gelora Bung Tomo? Ataukah ini hanya akan menjadi euforia awal tahun?
Sepak bola, seperti biasa, akan menjawabnya di lapangan.




