Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah menutup tahun anggaran 2025 dengan kinerja ekonomi yang diklaim tetap solid di tengah ketidakpastian global, tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang terjaga di kisaran 5% dan peningkatan pendapatan per kapita.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan bahwa sepanjang 2025, pemerintah konsisten menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
"Salah satunya melalui penguatan koordinasi kebijakan lintas kementerian dan lembaga, sehingga perekonomian Indonesia tetap tumbuh solid di tengah tantangan global," ujarnya dalam keterangannya, dikutip pada Jumat (1/1/2026).
Kemenko Perekonomian mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 tercatat sebesar 5,04% (year on year/Yoy). Dari sisi skala ekonomi, Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia sepanjang 2024 telah mencapai US$1.396,30 miliar.
Sementara itu, PDB berdasarkan purchasing power parity (PPP) tercatat menembus US$4,10 triliun, yang menempatkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar ke-8 di dunia.
"PDB per kapita Indonesia juga terus meningkat dan mencapai Rp78,62 juta atau setara US$4.960,33," tambah Haryo.
Baca Juga
- Purbaya Mau Paksa Ekonomi RI 2026 Tumbuh 6% di Tengah Waswas Dampak Global
- Bocoran Kenaikan Gaji ASN dari Purbaya, Data Ekonomi Ini jadi Patokannya
Di sektor pasar keuangan dan moneter, lembaga yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto itu meyakini stabilitas tetap terjaga. Inflasi per November 2025 terkendali di level 2,72% (YoY), masih dalam rentang sasaran 2,5±1%.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ke level 8.644,26 pada penutupan 29 Desember 2025, sementara nilai tukar rupiah relatif stabil di kisaran Rp16.785 per dolar AS pada Desember 2025. Cadangan devisa pun tercatat tebal di angka US$150,1 miliar per November 2025.
Kinerja sektor riil turut menunjukkan ekspansi. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur berada di level ekspansif 53,3 pada November 2025. Optimisme pasar juga terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di level 124,0 dan pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 5,9% (YoY).
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan akumulasi surplus Januari—Oktober 2025 mencapai US$35,88 miliar.
"Di sisi investasi, realisasi investasi pada periode Januari-September 2025 mencapai Rp1.434,3 triliun atau tumbuh sebesar 13,7%," jelas Haryo.
Haryo menilai bahwa pertumbuhan ekonomi juga dibarengi dengan perbaikan kualitas kesejahteraan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 4,85%, sementara tingkat kemiskinan nasional turun menjadi 8,47% per Maret 2025.
"Tingkat kemiskinan ekstrem turut menurun menjadi 0,85% pada periode yang sama, menandakan percepatan penurunan kemiskinan ekstrem yang semakin mendekati nol," paparnya.
Rasio Gini yang mencerminkan ketimpangan pendapatan juga membaik ke level 0,375. Guna menjaga momentum tersebut, pemerintah terus menggulirkan berbagai stimulus, mulai dari Bantuan Pangan, Bantuan Subsidi Upah, BLTS Kesra, hingga insentif fiskal bagi UMKM dan percepatan deregulasi melalui sistem OSS.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5459178/original/021615200_1767154861-atalia_di_pengadilan_agama_bandung.jpg)


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F01%2Fd85cb8d6abc5773fac501450c0c04ccb-cropped_image.jpg)