Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa tingginya fasilitas kredit yang belum ditarik atau undisbursed loan mencerminkan lemahnya permintaan kredit dari dunia usaha.
Purbaya justru menuding perilaku perbankan yang lebih nyaman memarkir dana di tempat lain karena kepastian keuntungan seperti membeli instrumen surat berharga ketimbang menyalurkan pinjaman. Artinya, menurutnya, penyaluran kredit seret bukan karena sepi debitur namun karena sikap cari aman bank.
Purbaya menegaskan bahwa permintaan kredit di sektor riil sejatinya cukup tinggi. Hanya saja, sebelum adanya injeksi likuiditas pemerintah, perbankan cenderung menahan diri dan memilih instrumen investasi yang dianggap lebih aman dengan imbal hasil pasti.
"Jadi, demand [permintaan] untuk kredit itu tidak ada, itu tidak benar. Lihat saja kasus saya yang pertama, dia cari kredit, lho, cari pinjaman dari bank, banknya enggak ada yang kasih pinjam. Kenapa? Karena bank bisa taruh [dana] di tempat yang lebih enak," jelas Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Adapun, dia merujuk salah satu kasus yang ditangani Satgas Percepatan Program Strategis Pemerintah (P2SP) pada pekan lalu. Saat itu, ada pengusaha yang mengadu masih kesulitan pembiayaan dari bank milik negara (Himbara).
Salah satu pelapor, PT Mayer Indah Indonesia menyampaikan pihaknya kesulitan mendapatkan pembiayaan termasuk dari Himbara. Padahal perusahaan bordir dan penghasil kebaya itu telah berdiri sejak 1973 dan mengaku mengalami kesulitan sejak pandemi Covid-19.
Baca Juga
- Purbaya Mau Paksa Ekonomi RI 2026 Tumbuh 6% di Tengah Waswas Dampak Global
- Purbaya Akui Dampak Injeksi ke Himbara Belum Optimal sebab Fiskal-Moneter Sempat Tidak Sinkron
- Bocoran Kenaikan Gaji ASN dari Purbaya, Data Ekonomi Ini jadi Patokannya
Oleh sebab itu, Purbaya meyakini sumbatan penyaluran kredit itu akan terbuka dengan adanya penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun ke lima bank Himbara pada medio September lalu. Likuiditas yang melimpah akan mendorong bank untuk segera menyalurkan kredit ke sektor riil.
Dia juga menyoroti bahwa rasio undisbursed loan terhadap total portofolio kredit perbankan cenderung stabil dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, indikator tersebut dinilai tidak valid jika digunakan sebagai pembenaran atas seretnya penyaluran kredit.
Berkaca pada pengalaman 2020—2021 ketika Covid-19, Purbaya menyebut penempatan uang negara terbukti mampu mengerek pertumbuhan kredit hingga double digit, meskipun angka undisbursed loan tetap ada.
"Jadi, tidak betul klaim bahwa undisbursed loan tinggi itu karena ditambah uang pun tidak ada yang pinjam. Problem undisbursed loan ada, tapi ketika ekonominya tumbuh, orang akan meminjam lebih banyak," ucapnya.
Purbaya mengestimasi bahwa dampak dari injeksi likuiditas terhadap pertumbuhan ekonomi dan kredit membutuhkan waktu transmisi sekitar 2 hingga 3 bulan setelah dana masuk ke sistem.
Bendahara negara itu mengklaim tanda-tanda pemulihan sudah mulai terlihat di level akar rumput, yang tercermin dari meredanya gejolak sosial di masyarakat.
"Kalau Anda lihat di kampung-kampung, di pinggiran, sudah mulai gerak ekonominya, paling tidak, tidak sesuram waktu itu. Kenapa orang tidak demo lagi di jalan? Karena mereka merasa ada harapan masa depan yang lebih baik," tutupnya.




