Investor Korea Selatan terus memborong saham dari BitMine Immersion Technologies Inc (BMNR). Padahal harga saham perusahaan tersebut telah anjlok dari puncaknya lebih dari 80%.
Dilansir Jumat (2/1), BitMine menutup tahun lalu sebagai salah satu saham luar negeri paling populer dalam kalangan investor dari Korea Selatan. Data Korea Securities Depository menunjukkan perusahaan ini berada dalam peringkat kedua dalam pembelian bersih oleh investor lokal, hanya kalah dari Alphabet Inc.
Baca Juga: Alexander Ramlie Jual Saham AMMN Senilai Rp419,39 Miliar, Ini Tujuannya
Sepanjang tahun itu, investor telah menanamkan dana bersih mereka kepada perusahaan itu sekitar US$1,4 miliar. Mereka tetap menjadi pembeli aktif meskipun harga sahamnya telah turun dari all-time highnya sekitar 82%.
Lonjakan BitMine bermula ketika perusahaan mengumumkan perubahan strategi dari penambangan bitcoin menjadi pembangunan treasury ether, dengan memposisikan diri sebagai perusahaan publik yang berfokus mengakumulasi ETH. Langkah tersebut memicu reli lebih dari 3.000%.
Minat investor tidak hanya tertuju pada sahamnya. Trader Korea Selatan juga memburu eksposur yang lebih agresif melalui ETF T-Rex 2X Long BitMine Daily Target. Sepanjang tahun ini, investor telah mengalirkan dana kepada investasi tersebut sekitar US$566 juta.
Kemenarikan BitMine terutama berasal dari neraca keuangannya. Perusahaan tersebut merupakan salah satu treasury aset digital terbesar yang secara khusus berfokus pada ETH.
Bagi investor ritel, daya tarik tersebut bukan pada stabilitas, melainkan pada potensi keuntungan yang besar. Perusahaan treasury ether diperdagangkan layaknya proksi ether dengan efek pengungkit, menggabungkan risiko saham dengan volatilitas kripto.
Baca Juga: Hanwha General Insurance Genggam 61,5% Saham LPGI
Struktur ini menciptakan potensi kenaikan tajam saat momentum positif terbentuk, namun juga penurunan yang sama tajam ketika arus dana berbalik. Hal inilah yang menjelaskan mengapa saham perusahaan itu tetap menjadi magnet bagi basis investor ritel berisiko tinggi, meskipun telah mengalami penurunan lebih dari 80%.





