Pantau - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan anggaran sekitar Rp79 miliar untuk memulihkan fungsi Daerah Irigasi (D.I.) Pante Lhong di Kabupaten Bireuen, Aceh, yang terdampak banjir besar dan limpasan air (overtopping) pascabencana Sumatera.
Fungsi utama jaringan irigasi terganggu akibat endapan sedimen yang menumpuk serta kerusakan fisik pada saluran dan tanggul, menghambat distribusi air ke sekitar 1.282 hektare sawah dari total cakupan layanan 6.562 hektare.
Kerusakan Bendung dan Saluran Irigasi, Sawah Petani Terancam Gagal PanenBanjir yang terjadi menyebabkan endapan lumpur dan material sampah menumpuk di intake, trash rack, apron mercu, kantong lumpur, dan sistem pembilas.
Kerusakan paling parah terjadi di tanggul kanan bagian hulu yang terputus akibat derasnya limpasan air, serta runtuhnya beberapa bagian saluran irigasi yang kini tertimbun dan tidak dapat dialiri air.
Kondisi ini mengancam produktivitas lahan pertanian di Bireuen dan sekitarnya yang mengandalkan suplai air dari sistem D.I. Pante Lhong.
Langkah Pemulihan: Fokus Infrastruktur dan Padat KaryaKementerian PU melalui Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air telah memulai proses identifikasi dan perencanaan teknis yang fokus pada:
Pembangunan ulang tanggul kanan bendung
Pembersihan endapan sedimen di intake dan trash rack
Normalisasi kantong lumpur dan saluran utama
Rehabilitasi saluran tertutup dan sekunder yang runtuh
Perbaikan lahan sawah terdampak lumpur
Salah satu strategi yang diusung adalah pelibatan masyarakat lokal melalui program padat karya, khususnya dalam kegiatan normalisasi saluran irigasi untuk mendorong pemulihan ekonomi setempat.
Fokus Utama: Ketahanan Pangan DaerahUpaya pemulihan ini bertujuan mengembalikan fungsi irigasi secara optimal dan menjamin keberlanjutan distribusi air ke lahan pertanian produktif.
Kementerian menegaskan bahwa rehabilitasi D.I. Pante Lhong merupakan bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan daerah di tengah ancaman perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi.



