Menjaga Kantong di Tengah Ketidakpastian 2026

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Tahun Baru 2026 belum membawa rasa lega bagi Aftio Putra (33). Pekerja periklanan ini tengah menata ulang keuangan keluarganya setelah menghadapi tahun 2025 yang penuh tantangan. Istrinya mengundurkan diri dari pekerjaan, sementara biaya hidup terus menumpuk.

Ada cicilan KPR rumah yang mereka ambil sejak 2022, pengeluaran untuk anak dan pengasuh, hingga kebutuhan rumah tangga membuat tabungan keluarga nyaris terkuras.

”Selama empat bulan, tabungan sempat terkuras dan pakai tambahan uang pensiun kami. Dengan tanggungan itu, kami mencoba bertahan,” ujar Aftio kepada Kompas, Jumat (19/12/2025).

Aftio dan istrinya kini mencoba menambah pemasukan dengan berbisnis waralaba minuman instan. Dengan modal sekitar Rp 15 juta, ia berharap bisa kembali menabung setelah usaha ini mulai menghasilkan keuntungan di 2026.

Kisah Aftio mencerminkan kondisi masyarakat kelas ekonomi menengah yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Meski perekonomian Indonesia di 2025 tetap tumbuh sekitar 5 persen, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual kepada Kompas, Rabu (17/12/2025), mengatakan, dampaknya berbeda pada tiap lapisan masyarakat.

Kelas menengah, yang jumlahnya 38,5 juta jiwa atau sekitar 20,7 persen penduduk Indonesia, dianggap paling rentan sejauh ini. Kalangan ini kesulitan naik kelas menjadi orang kaya dan mudah terdampak pelambatan ekonomi, misalnya saat harga naik tetapi gaji stagnan (Kompas, 25/2/2024).

Karena itu, David menilai tahun ini adalah momen bertahan bagi kelas menengah dan mereka yang berpenghasilan rendah. Saran dia, yakni mengupayakan pendapatan cukup untuk pengeluaran kebutuhan sambil terus membuka dengan peluang untuk menambah pemasukan.

Prinsip dasar keuangan

Untuk menghadapi tekanan ekonomi, David menyarankan strategi bertahan sambil membuka peluang menambah penghasilan. Salah satunya adalah perencanaan pengeluaran dengan memisahkan kebutuhan dan keinginan.

Prioritas utama tetap biaya sekolah anak, transportasi, listrik, dan cicilan kendaraan. Pekerjaan sampingan juga menjadi salah satu jalan. Peluang pekerjaan baru, sebut saja seperti verifikasi pelatihan akal imitasi (AI) yang tengah booming di India, berpotensi diadopsi di Indonesia.

Selain itu, keseimbangan aset dan likuiditas menjadi kunci. Dana darurat sebaiknya tersedia dalam bentuk reksa dana pasar uang atau deposito, 5–10 persen dari aset, sebelum menaruh dana pada investasi yang lebih berisiko, termasuk saham atau kripto. Emas juga bisa menjadi pilihan untuk menjaga nilai aset jangka panjang.

Founder Finansia Consulting dan Sahabat Pensiun, Eko Endarto, menilai 2026 sebagai tahun yang menuntut kewaspadaan sekaligus kedewasaan finansial. Ketidakpastian global, konflik berkepanjangan, hingga isu lingkungan, menurutnya, berpotensi terus menekan inflasi dan harga barang.

“Inflasi kemungkinan naik, harga-harga akan naik. Di sisi lain, perusahaan belum tentu bisa menaikkan gaji karena kondisi mereka sendiri sedang berat,” ujar Eko kepada Kompas, Selasa (16/12/2025).

Dalam kondisi seperti itu, masyarakat dipaksa mencari jalan lain—entah dengan menambah penghasilan atau menata ulang pengeluaran.

Namun, jalan pintas sering kali menggoda. Kemudahan akses pinjaman, yang kini hanya berjarak beberapa sentuhan jari, menjadi pedang bermata dua. “Orang sering tidak berpikir jernih apakah pinjaman itu benar-benar penting. Padahal, di belakangnya ada bunga dan denda yang bisa menumpuk,” kata Eko.

Baca JugaHidup Warga Jawa Barat Terimpit meski Data Ekonomi Melejit

Ia menyontohkan bunga pinjaman konsumtif yang dihitung harian, sekitar 0,2 persen. Dalam sebulan, bunga bisa menembus 6 persen dari pokok pinjaman, belum termasuk biaya administrasi.

Di sinilah, menurut Eko, prinsip dasar pengelolaan keuangan perlu terapkan. Meskipun sederhana, prinsip ini kerap diabaikan. “Pilihannya pemasukan diperbesar atau pengeluaran dikurangi,” ujarnya. Tanpa kendali pengeluaran, sebesar apa pun pemasukan akan selalu terasa kurang.

Prioritas menjadi kata kunci. Utang harus ditekan, bukan ditambah. Proteksi, seperti asuransi, perlu dimiliki dan dievaluasi kecukupannya. Setelah itu, barulah pengeluaran sehari-hari ditelusuri ulang, termasuk pos-pos yang selama ini dianggap wajar, seperti biaya pendidikan tambahan atau gaya hidup yang perlahan terbentuk dari media sosial.

“Kita jangan berharap uang masuk dulu sebelum bisa mengelola pengeluaran. Uang sebesar apa pun tidak akan ada fungsinya kalau kita tidak bisa mengatur keluarnya,” ujarnya.

Investasi risiko rendah

Di tengah ketidakpastian, investasi tetap diperlukan—bukan untuk berspekulasi, melainkan untuk menjaga masa depan. Eko menyarankan pendekatan bertahap. Instrumen investasi yang relatif aman bisa jadi pilihan. Contohnya, emas. “Emas biasanya jadi pilihan pertama karena paling aman dan diterima di mana saja,” ujarnya.

Setelah itu, obligasi pemerintah atau obligasi perusahaan berfundamental kuat bisa dipilih untuk menopang stabilitas. Saham, menurut Eko, masih relevan, tetapi harus dipilih dengan sangat selektif. Hal ini karena tahun ini kemungkinan banyak perusahaan menahan ekspansi.

Reksa dana dapat menjadi jalan tengah bagi mereka yang ingin berinvestasi tanpa harus memilih saham satu per satu. Sementara itu, aset kripto tetap bisa dilirik, tetapi dengan kehati-hatian ekstra. “Ini instrumen baru. Banyak yang perlu diperhatikan, dari pengelolanya sampai keamanan dompet digital,” kata Eko.

Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah dana cadangan. Prinsipnya tak berubah dari tahun-tahun sebelumnya: tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan bagi karyawan, dan enam sampai dua belas kali bagi pelaku usaha.

Namun, Eko juga mengingatkan, menumpuk tabungan semata bukan jawaban. Dalam kondisi inflasi tinggi, uang yang terlalu lama mengendap justru berisiko tergerus nilainya.

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Freddy Tedja, dalam pernyataan terpisah, menilai, obligasi masih menawarkan stabilitas bagi investor, meski ruang penurunan suku bunga semakin terbatas.

Saham justru mulai terlihat lebih menarik dari sisi risiko dan imbal hasil, terutama pada sektor keuangan, barang konsumsi pokok, dan material dasar.

Baca JugaPasar Modal Tutup 2025 dengan Positif, BEI Matangkan Pendalaman

Pilihan sektor investasi saham ini, didukung proyeksi perbaikan kinerja manufaktur di dalam negeri. Freddy melihat sinyal yang lebih menenangkan karena aktivitas manufaktur membaik, penjualan ritel bergerak naik, dan kepercayaan konsumen perlahan pulih.

Hal ini didukung proyeksi kenaikan belanja negara dan suku bunga yang relatif rendah. Dengan ini, pertumbuhan ekonomi dalam negeri diyakini akan membaik dari 2025. Ekspektasi pemulihan ekonomi, pada saat bersamaan, kata Freddy, dapat mendorong pertumbuhan laba emiten.

“Kami memproyeksikan pertumbuhan laba IHSG di kisaran 8 persen secara tahunan. Selain itu, valuasi saham blue chip atau saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi juga masih atraktif, setara dengan level masa pandemi,” kata Freddy.

Evaluasi portofolio

Menutup pandangannya, Freddy menekankan pentingnya evaluasi portofolio. Hal ini kendati tahun 2026 menurutnya berpotensi menjadi awal siklus pemulihan ekonomi, dengan suku bunga yang relatif stabil di level terendahnya. Ia menambahkan, kondisi ini berbeda dengan periode 2024–2025.

 “Karena itu, investor sebaiknya mulai mengevaluasi ulang alokasi asetnya, mempertimbangkan diversifikasi ke income asset dengan imbal hasil kompetitif, sekaligus tetap memiliki eksposur ke growth asset untuk menangkap potensi pemulihan ekonomi,” ujar Freddy.

Tahun 2026, pada akhirnya, bukan hanya soal bertahan. Tahun ini masyarakat harus lebih sadar mengelola uang, lebih berani menata ulang prioritas, dan lebih bijak melihat peluang di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemkab Sumedang Targetkan Raih Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp1 Triliun pada 2026
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Prediksi Cuaca BMKG Hari Ini Jumat 2 Januari 2026: Mayoritas Jabodetabek Hujan Ringan hingga Sedang
• 12 jam laluliputan6.com
thumb
Bocor! Arsenal Coba Bajak Bintang Real Madrid Januari Ini Demi Ambisi Juara Liga Inggris
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Super League: Persija Tetap Berlatih di Tengah Libur Tahun Baru demi Persiapan Hadapi Persijap
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Hendak Ambil Daun Salam, Pemuda di Bogor Tewas Tersengat Listrik
• 3 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.