Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak dibuka ceria pada awal perdagangan tahun 2026, meskipun pada akhir perdagangan 2025 kedua logam tersebut harus ditutup di zona merah. Namun keduanya mencatatkan kinerja yang luar biasa di sepanjang tahun 2025.
Pada perdagangan hari ini Jumat (2/1/2026) hingga pukul 07.30 WIB, harga emas dunia di pasar spot menguat 0,79% di posisi US$4.347,49 per troy ons.
Sementara pada perdagangan sebelumnya Rabu (31/12/2025), harga emas dunia turun 0,74% di level US$4.314,12 per troy ons. Meskipun harga emas ditutup di zona merah pada penutupan perdagangan akhir tahun, akan tetapi harga emas mencatatkan kenaikan hingga 64,42% di sepanjang 2025.
Meskipun terjadi penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir, baik emas maupun perak diperkirakan akan mencatatkan kenaikan substansial menjelang akhir tahun 2025, mengakhiri tahun yang luar biasa bagi logam mulia karena investor mencari keamanan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Kenaikan emas didukung oleh pelonggaran kebijakan The Federal Reserve (The Fed) dan pembelian oleh bank sentral.
Emas muncul sebagai aset unggulan pada tahun 2025, didukung oleh pergeseran kebijakan moneter The Fed. Bank sentral AS memangkas suku bunga tiga kali selama tahun tersebut, menurunkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil dan meningkatkan daya tarik emas.
Pasar juga memperkirakan penurunan suku bunga lebih lanjut pada tahun 2026, memperkuat sentimen bullish.
Pembelian oleh bank sentral memberikan pilar dukungan utama lainnya, dengan beberapa negara pasar berkembang terus menambah emas ke cadangan mereka sebagai bagian dari strategi diversifikasi dari dolar AS.
Pada saat yang sama, ketegangan geopolitik yang terus-menerus, termasuk konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah, mendukung permintaan emas sebagai aset safe-haven sepanjang tahun.
Dalam catatan bulan Oktober, analis di HSBC menaikkan perkiraan harga emas mereka untuk 2026, memprediksi logam mulia tersebut akan mencapai US$5.000 per ons di tengah ketidakpastian yang luas.
Para analis baru-baru ini mencatat bahwa banyak faktor yang membentuk lonjakan harga tahun ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2026, bersamaan dengan risiko geopolitik yang berkelanjutan dan permintaan industri yang kuat.
(saw/saw)
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F02%2Fb09c6e98175da6046220461a94a2f3c9-IMG_20260102_181753.jpg)



