DIFTERI sering disebut sebagai penyakit lama. Namun faktanya penyakit ini belum benar-benar pergi. Di tengah kesibukan dan rasa aman palsu karena kemajuan medis, difteri justru bisa muncul diam-diam.
Banyak korban awalnya hanya mengeluh sakit tenggorokan ringan, merasa seperti flu biasa, lalu memilih beristirahat di rumah. Tanpa disadari, bakteri sudah bekerja perlahan di dalam tubuh.
Ciri paling khas dari difteri adalah munculnya lapisan putih tebal di tenggorokan. Lapisan ini tampak sepele, tapi justru menjadi tanda bahaya serius. Saat lapisan semakin tebal, saluran napas bisa tersumbat.
Baca juga : Penularan Penyakit Difteri di Jawa Barat Masih Mengkhawatirkan
Penderita mulai kesulitan bernapas, leher membengkak, dan kondisi bisa memburuk dengan sangat cepat. Di balik itu semua, racun dari bakteri difteri menyebar ke organ vital, menyebabkan gangguan jantung dan saraf yang bisa berujung kematian mendadak.
Hal yang membuat difteri semakin berbahaya ialah cara penularannya. Penyakit ini tidak mengenal jarak. Batuk kecil, bersin, atau berbagi gelas minum sudah cukup untuk menyebarkan bakteri ke orang lain.
Dalam beberapa kasus, seseorang bisa menularkan difteri tanpa menunjukkan gejala apa pun. Inilah alasan mengapa wabah bisa muncul tiba-tiba.
Difteri bukan sekadar masalah individu. Ini adalah ancaman bersama. Ketika imunisasi diabaikan dan gejala awal diremehkan, penyakit ini mendapatkan celah untuk kembali. Padahal, difteri adalah penyakit yang bisa dicegah jika kesadaran dan kewaspadaan dijaga sejak awal. (Z-2)



