EtIndonesia. Situasi di berbagai kota Iran dalam beberapa hari terakhir digambarkan bak letusan gunung berapi. Gelombang protes nasional yang dipicu krisis ekonomi akut kini telah memasuki hari keempat, menyebar cepat dari pusat ibu kota ke lebih dari 30 kota di seluruh negeri. Api kecil yang awalnya menyala di Bazaar Besar Teheran kini menjalar menjadi kebakaran sosial berskala nasional.
Akar Masalah: Krisis Ekonomi yang Tak Tertahankan
Gelombang kemarahan publik ini berakar pada kemerosotan ekonomi yang sangat parah. Sepanjang 2025, mata uang Iran, rial, terjun bebas. Puncaknya terjadi pada 29 Desember 2025, ketika nilai tukar mencapai rekor terendah sepanjang sejarah: 1 dolar AS = 1,4 juta rial Iran.
Untuk menggambarkan besarnya kejatuhan ini, perbandingan lintas waktu menjadi sangat mencolok:
- 1978 (akhir Dinasti Pahlavi): 1 dolar AS ≈ 70 rial
- 2015: 1 dolar AS ≈ 30.000 rial
- 2025: 1 dolar AS ≈ 1.400.000 rial
Artinya, nilai mata uang Iran telah terdepresiasi lebih dari 20.000 kali lipat. Tabungan seumur hidup rakyat dapat berubah nyaris tak bernilai dalam waktu singkat. Banyak pengamat menyebut situasi ini bukan sekadar inflasi, melainkan kehancuran ekonomi sistemik.
Dampaknya terasa di kehidupan sehari-hari. Harga bahan pangan melonjak hingga 72% dalam setahun. Daging dan buah-buahan menjadi barang mewah. Sejak Desember 2024, harga bensin meroket, membuat masyarakat kelas menengah ke bawah semakin terhimpit. Tak hanya buruh dan pegawai, pedagang pun terpukul: biaya membuka toko kini lebih mahal daripada menutupnya, memaksa banyak usaha gulung tikar.
Di tengah keputusasaan, muncul kalimat yang kini menjadi slogan jalanan: “Ketika mata uang runtuh, kebohongan pun ikut runtuh.”
Tudingan Publik terhadap Rezim
Selama puluhan tahun, rezim di Teheran dituding mengalirkan sumber daya negara ke konflik regional—mulai dari Suriah, Lebanon, Yaman, hingga Gaza—serta mendukung kelompok bersenjata seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi. Di mata rakyat, kebijakan ini dilakukan saat mereka sendiri bergulat dengan kemiskinan dan masa depan yang kian gelap.
Pemicu Langsung: Bazaar Besar Teheran
Ledakan protes dipicu pada 28 Desember 2025 di Bazaar Besar Teheran, jantung ekonomi Iran. Ribuan pedagang menutup toko dan turun ke jalan, memprotes runtuhnya nilai tukar dan melonjaknya biaya hidup. Rekaman video menunjukkan massa meneriakkan “Javid Shah”—“Hidup Sang Raja!”
Seruan ini dianggap sangat mengguncang. Protes tak lagi berhenti pada isu ekonomi, melainkan berubah menjadi tantangan politik terbuka terhadap rezim teokrasi, dengan seruan agar monarki Pahlavi kembali dipertimbangkan.
Latar Sejarah: Dari Revolusi 1979 hingga Kini
Untuk memahami kemarahan hari ini, publik menengok 1979—tahun tumbangnya Dinasti Pahlavi yang sekuler dan modern. Saat itu, Shah memilih pengasingan demi menghindari pertumpahan darah. Namun, pemerintahan baru di bawah Ayatollah Khomeini justru mendirikan rezim teokrasi keras.
Empat puluh enam tahun kemudian, Iran berubah dari “permata Teluk Persia” menjadi negara terisolasi, ekonominya tertekan sanksi internasional.
Sejarah seolah berputar: dulu rakyat meneriakkan anti-monarki, kini—setelah puluhan tahun di bawah kekuasaan ulama—sebagian justru memanggil kembali monarki.
Penyebaran Cepat ke Seluruh Negeri
- 28 Desember malam: Protes merembet ke kawasan permukiman; remaja dan perempuan ikut bergabung.
- 29 Desember: Kerusuhan pecah di Isfahan dan Hamadan; aparat dipukul mundur. Buruh minyak di Ahvaz melakukan mogok, diikuti sektor energi lain.
- 30 Desember: Lebih dari 30 kota terlibat. Mahasiswa, buruh, pedagang, hingga pensiunan turun ke jalan. Perempuan memimpin barisan dengan slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan.”
- 31 Desember: Hari keempat protes. Aksi di Bazaar Besar Teheran berlanjut; pemogokan nasional meluas ke sopir truk, perawat, dan guru.
Di media sosial beredar pesan memilukan dari seorang remaja: “Saya merekam ini dalam ketakutan. Tolong sebarkan. Biarkan dunia tahu bahwa kami tidak menginginkan rezim ini.”
Respons Pemerintah dan Tuduhan Provokasi
Pemerintah merespons dengan penindasan keras. Di sejumlah daerah, terekam pasukan berpakaian sipil merusak toko dan restoran—dituding sebagai upaya menyalahkan demonstran dan membingkai protes sebagai kerusuhan. Banyak warga menilai pola ini mengingatkan pada Tragedi Tiananmen 1989.
Namun kali ini, ponsel dan media sosial menjadi saksi. Video menyebar luas, mematahkan narasi resmi.
Korban Jiwa dan Eskalasi
Pada 31 Desember 2025, laporan menyebutkan lebih dari 1.500 orang tewas akibat penembakan aparat. Internet diputus di berbagai wilayah, penangkapan massal dilakukan. Meski demikian, di beberapa kota—termasuk Fasa—dilaporkan aparat mundur dan gedung pemerintahan setempat sempat dikuasai demonstran.
Peran Tokoh dan Faktor Eksternal
Putra Mahkota di pengasingan, Reza Pahlavi, merespons seruan publik. Pada Oktober 2025, dia meluncurkan “Cetak Biru Politik untuk Merebut Kembali Iran”, menegaskan bahwa bentuk negara—republik atau monarki konstitusional—akan ditentukan lewat referendum nasional. Dia juga menjanjikan amnesti bagi aparat yang berpihak pada rakyat.
Di sisi eksternal, konflik Israel–Iran pada Juni 2025 disebut melemahkan Garda Revolusi Iran. Serangan udara Israel, dengan dukungan AS, menargetkan fasilitas strategis dan memperlihatkan rapuhnya sistem komando militer Iran. Amerika Serikat menyoroti isu kebebasan informasi dan membantu rakyat Iran menembus pemblokiran internet. Presiden Donald Trump secara terbuka mengecam penembakan demonstran, menyebutnya sebagai “Tiananmen versi Iran.”
Sementara itu, Tiongkok dan Rusia cenderung diam—sebuah sikap yang dipahami banyak analis sebagai kalkulasi kepentingan dan penghindaran risiko.
Di Persimpangan 2026: Titik Balik Sejarah?
Banyak pihak menyebut rangkaian peristiwa ini sebagai “pertarungan terakhir Iran.” Sebuah era sering kali berakhir sunyi, namun penutupnya menggelegar. Ketika dunia memasuki tahun 2026—diawali oleh Kiribati, disusul Selandia Baru dan Australia—pertanyaan besarnya tetap menggantung: apakah fajar baru Iran benar-benar akan terbit di awal 2026?




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2022%2F09%2F01%2Fe77f631c-d68a-4d49-aecf-ab83c21cd37f.jpg)