Nilai tukar rupiah melemah 0,22% ke level 16.724 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, mengawal tahu 2026, Jumat (2/1). Namun, kurs rupiah diprediksi akan menguat seiring potensi intervensi yang akan dilakukan Bank Indonesia (BI).
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan datarnya pergerakan nilai tukar rupiah karena absennya data ekonomi dan event penting selama libur tahun baru. Namun, rupiah akan mendapatkan dukungan dari langkah yang diambil BI.
“BI diperkirakan akan kembali mengintervensi untuk mencegah volatilitas yang tidak jarang terjadi ketika aktivitas perdagangan yang sepi. Ini bisa kembali menguatkan rupiah,” kata Lukman kepada Katadata.co.id, Jumat (2/12).
Lukman memperkirakan rupiah akan berada di level 16.600 per dolar AS hingga 16.750 per dolar AS Berdasarkan data Bloomberg pada pagi ini, rupiah dibuka melemah 9 poin dibandingkan penutupan akhir tahun lalu di level 16.696 per dolar AS.
Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah masih akan melemah pada awal tahun ini. “Mata uang fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.680 per dolar AS hingga Rp 16.710 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Ibrahim mengungkapkan saat ini pasar masih terguncang oleh rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve pada akhir tahun 2025. The Fed mengungkapkan perbedaan pendapat yang mendalam di antara para pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga pada 2026.
“Risalah tersebut menunjukkan bahwa beberapa pejabat semakin berhati-hati untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut, dengan alasan tekanan inflasi yang tinggi dan ketidakpastian mengenai prospek ekonomi. Yang lain berpendapat bahwa kebijakan yang ketat dapat berisiko memperlambat pertumbuhan terlalu tajam jika dipertahankan terlalu lama,” ujar Ibrahim.


