Porsi Investor Ritel Naik Tajam, OJK Tekankan Pentingnya Aspek Perlindungan

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Hal ini ditandai dengan meningkatnya investor ritel di mana proporsinya telah mencapai 50 persen pada 2025 dibandingkan 38 persen pada 2024.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar menilai, menguatnya investor ritel membawa tantangan tersendiri bagi regulator untuk terus meningkatkan pengawasan dan integritas pasar. Dia menekankan, perlindungan terhadap publik harus menjadi prioritas utama untuk mencegah praktik-praktik kecurangan.

Baca Juga:
Investor Ritel Bangkit di 2025, Bakal Tetap Dominan di 2026?

"Proporsi (investor ritel) itu sangat besar dibanding negara-negara lainnya yang lebih mengandalkan investor institusional dalam maupun luar negeri. Artinya semakin meningkatkan urgensi penguatan aspek perlindungan, termasuk melindungi investor ritel dari praktik kemungkinan goreng menggoreng saham, transaksi tidak wajar, serta bentuk kemungkinan manipulasi lainnya," katanya dalam seremoni Pembukaan Perdagangan 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Selain itu, Mahendra juga memberikan catatan terhadap pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025. Secara umum, dia mengapresiasi pertumbuhan indeks yang selaras dengan resiliensi ekonomi nasional.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup tahun 2025 dengan performa yang mengesankan.

Baca Juga:
Animal Spirit Bangkit, JPMorgan Prediksi IHSG Bisa Tembus 10.000 di 2026

"Selaras dengan kinerja perekonomian nasional, berbagai indikator kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang baik, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Direktur Utama BEI pada penutupan tanggal 30 Desember yang lalu antara lain penutupan IHSG berada di level 8.646,94 atau menguat 22,13 persen sepanjang tahun 2025," ujar Mahendra.

Meskipun mencatatkan kenaikan luar biasa, OJK melihat masih banyak ruang perbaikan yang perlu dikejar. Salah satu sorotannya adalah indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2,41 persen, tertinggal jauh dari penguatan IHSG secara keseluruhan.

Dari sisi kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), Indonesia mengalami lonjakan dari 56 persen pada akhir 2024 menjadi 72 persen pada akhir 2025. Namun, angka ini dinilai masih perlu ditingkatkan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan kawasan.

"Sungguh kenaikan yang luar biasa. Sekalipun demikian angka itu masih di bawah negara-negara di kawasan kita seperti India 141 persen, Thailand 101 persen, Malaysia 97 persen dari PDB mereka masing-masing. Yang artinya potensi pengembangan masih lebih besar lagi," kata Mahendra.

Dengan demikian, OJK berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan agar pertumbuhan jumlah investor ritel yang masif ini diimbangi dengan ekosistem pasar modal yang sehat, transparan, dan jauh dari manipulasi.

>

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kronologi Pelaku Tabrak Lari Maut di Tambora Tertemper Kereta saat Kabur
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Gubernur tegaskan tidak ada izin baru pembukaan kebun sawit di Papua
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
BNPB Pulihkan Akses Jalan yang Tertimbun Kayu
• 45 menit lalutvrinews.com
thumb
Jeremie Frimpong Akui Lini Serang The Reds Kurang Klinis dalam Laga Liverpool vs Leeds United
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Danantara Bakal Serahkan 600 Unit Hunian Sementara pada 8 Januari 2026
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.