BOGOR, KOMPAS.com - Kemacetan di Jalur Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, saat musim libur panjang selalu menjadi persoalan klasik.
Arus kendaraan wisatawan yang membeludak kerap bertemu dengan kondisi jalan yang sempit, jalur alternatif berkelok, hingga praktik pungutan liar (pungli) dan joki jalanan yang memicu keresahan lalu lintas.
Hal yang demikian membuat warga setempat bergerak. Mereka berdiri di tepi jalan maupun persimpangan, mengenakan rompi, memberi isyarat dengan tangan, serta mengatur kendaraan yang datang dari berbagai arah.
Baca juga: Hidup dari Gunungan Sampah Bantargebang, Andi Raup Rp 30 Juta per Bulan dari Limbah Plastik
Warga yang melakukan kegiatan tersebut adalah supeltas, alias sukarelawan pengatur lalu lintas yang sehari-hari hidup berdampingan dengan hiruk-pikuk daerah Puncak.
Keberadaan mereka kini menjadi bagian dari strategi baru untuk meredam kekacauan arus lalu lintas, sekaligus menutup celah praktik liar yang kerap muncul saat libur panjang.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=supeltas, Puncak Bogor, indepth, Pengatur lalu lintas, Supeltas di Jalur Puncak Bogor&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wMi8xMTEzMjgyMS9jZWdhaC1wdW5nbGktZGFuLWpva2ktamFsYW5hbi1kaS1qYWx1ci1wdW5jYWstcG9saXNpLXJla3J1dC13YXJnYS1sb2thbA==&q=Cegah Pungli dan Joki Jalanan di Jalur Puncak, Polisi Rekrut Warga Lokal Jadi Supeltas§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Alih-alih hanya menertibkan, keterlibatan warga ini dimaksudkan untuk menjaga ritme arus kendaraan agar tetap bergerak, terutama di jalur-jalur alternatif yang rawan disalahgunakan.
Supeltas dihadirkan sebagai upaya mencegah praktik pungli, dengan memanfaatkan warga yang paling mengenal medan dan kebiasaan lalu lintas di wilayahnya sendiri.
Sebanyak 65 warga dari tiga kecamatan di Puncak dilibatkan langsung dalam pengaturan lalu lintas, khususnya di titik-titik krusial yang rawan macet.
Menekan Pungli dan Joki JalananKepala Unit (KBO) Satlantas Polres Bogor Iptu Ardian Novianto menjelaskan, Supeltas direkrut dari masyarakat lokal yang selama ini memang akrab dengan kondisi jalan di wilayahnya.
Salah satu latar belakang utama perekrutan Supeltas adalah maraknya praktik pungli dan joki jalanan di jalur alternatif Puncak. Fenomena ini sudah sering viral di media sosial saat musim liburan tiba.
“Yang biasanya di minggu-minggu yang terdahulu itu sempat terjadi viral adanya joki terus kemudian adanya pungli, nah itu harapan kami adalah Supeltas ini bisa meminimalisir," kata Ardian kepada Kompas.com di Pos Polisi Hoegeng, Gadog, Selasa (30/12/2025).
Ardian mengakui bahwa praktik-praktik yang merugikan wisatawan yang hendak ke Puncak belum dapat dihilangkan sepenuhnya.
Baca juga: Keluh Mata Elang Usai Aplikasi Matel Dihapus: Kami Tak Bisa Kerja Lagi
“Namun kita tidak bisa begitu saja menghilangkan karena kan jalur alternatif itu banyak dan Supeltas yang kami rekrutkan ini kan masih tergolong cukup sedikit," kata dia.
“Yang kedua adalah menunjukkan yang mana yang menjadi joki-joki agar kita amankan, kemudian kita data agar jangan menjadi joki-joki liar," katanya.
Jalur Alternatif Jadi Titik KritisMenurut Ardian, supeltas ditempatkan di tiga kecamatan di Jalur Puncak, yakni Ciawi, Megamendung, dan Cisarua.
Jalur-jalur tersebut sering menjadi pilihan wisatawan, terutama saat polisi menerapkan rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah (one way).
"Tiga kecamatan ini adalah jalur-jalur alternatif yang banyak menghubungkan ke Jalan Raya Puncak sehingga banyak digunakan oleh wisatawan yang akan pergi kunjung ke kawasan wisata Puncak," kata dia.
Ketika rekayasa lalu lintas diberlakukan, arus kendaraan kerap dialihkan ke jalur-jalur kecil di permukiman warga.
Kondisi ini membuat jalan alternatif yang sempit menjadi padat dan rawan konflik antarkendaraan.
Baca juga: Satu-satunya di Dunia, Bekas Gudang Rempah VOC di Jakut Beralih Jadi Rumah Warga
“Apabila memang ada rekayasa satu arah ke bawah, maka di Ciawi ini adalah pintu masuknya jalur-jalur alternatif yang akan digunakan untuk ingin menuju ke arah Cisarua atau ke arah puncak," ujar dia.
Ditempatkan di Jalur SempitDalam kondisi tersebut, Supeltas memainkan peran penting. Mereka ditempatkan di jalur-jalur alternatif yang sempit dan memiliki banyak perpotongan kendaraan.
Di titik-titik ini, keberadaan petugas tambahan dinilai krusial untuk mencegah kemacetan total.
“Supeltas ini kita tempatkan di jalur-jalur alternatif tersebut untuk mengatur, membantu mengatur terkait arus kendaraan dan perpotongannya," ujar Ardian.
Berbeda dengan jalur utama, supeltas tidak bertugas mengatur lalu lintas secara langsung di pintu masuk Cisarua dan Ciawi.
Di lokasi tersebut, mereka lebih difokuskan pada pengawasan bersama aparat kepolisian.




