Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja fenomenal sepanjang 2025. Lantas, sektor-sektor apa saja yang menarik dicermati di 2026?
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja fenomenal sepanjang 2025, terutama pada paruh kedua, setelah sempat tertekan akibat ketidakpastian global dan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS).
Saham-saham milik konglomerat tampil sebagai penopang utama pergerakan indeks, di tengah melemahnya kinerja saham-saham perbankan besar sepanjang tahun lalu.
Lantas, sektor-sektor apa saja yang layak dicermati pada 2026?
Hingga penutupan perdagangan 30 Desember 2025, IHSG tercatat melonjak 22,13 persen ke level 8.646,94 sepanjang 2025. Capaian tersebut menjadi kenaikan tahunan tertinggi IHSG sejak 2017.
Sepanjang tahun lalu, IHSG juga sukses mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high (ATH) sebanyak 24 kali, mencerminkan kuatnya momentum pasar.
Saham-saham konglomerat menjadi penggerak utama indeks, mulai dari emiten-emiten Grup Sinarmas, Grup Salim, Grup Bakrie, Grup Barito milik Prajogo Pangestu, hingga grup usaha Happy Hapsoro.
Jika ditinjau secara sektoral, kelompok saham teknologi membukukan kenaikan paling tinggi dengan lonjakan mencapai 138 persen sepanjang 2025.
Kinerja tersebut disusul sektor perindustrian yang melesat 108 persen pada periode yang sama.
Deretan Sektor Seksi di 2026
Founder WH Project William Hartanto menjelaskan, peluang investasi pada 2026 berpotensi diwarnai oleh rotasi sektor seiring perubahan dinamika ekonomi dan pasar.
Menurut dia, saat ini terdapat dua sektor yang dinilai menarik untuk dicermati oleh investor.
“Untuk saat ini saya menemukan dua sektor yang menarik, yaitu perkapalan karena sentimen LNG dan properti,” katanya, 24 Desember 2025.
William menilai, sektor properti berpeluang kembali mendapat angin segar seiring perubahan arah kebijakan moneter. “Properti diperkirakan karena menyambut era suku bunga rendah,” imbuh dia.
Ia menyebutkan sejumlah saham yang dapat menjadi perhatian investor di masing-masing sektor tersebut. “Saham-sahamnya antara lain SOCI, SMDR, CBRE, RMKE, SMRA, BKSL, dan APLN,” ujar William.
Selain itu, ia juga menyoroti beberapa saham perkapalan lain yang dinilai masih menarik secara teknikal. “Ada GTSI dan HUMI juga. Keduanya masih masuk sebagai pilihan, di mana keduanya memang menarik untuk trading mengikuti tren,” pungkasnya.
Founder Stockwise Douglas Goh juga memaparkan daftar sektor saham pilihannya untuk 2026, dengan menyoroti sejumlah tema besar yang dinilainya masih relevan hingga tahun depan.
Untuk sektor saham konglomerat, Douglas menilai momentumnya belum berakhir. “Konglo. Juara 2025, lanjut ke 2026 karena masih banyak kepentingan, aksi korporasi, dan index play,” ujar Douglas, Jumat (2/1/2026).
Selain itu, Douglas menaruh perhatian pada sektor perkapalan yang dinilainya mulai diuntungkan oleh perubahan peta perdagangan global.
“Kemudian, sektor perkapalan. Kalau ditelusuri lebih dalam, ada perubahan ‘jalur’, terutama berurusan dengan China, di mana kemungkinan besar bisnis dan emiten perkapalan di Indonesia bisa ikut terdampak positif,” tutur Douglas.
Sementara itu, dari sisi komoditas, Douglas melihat siklus mulai kembali berpihak pada sektor ini. “Sektor komoditas. Siklus dan volume memang balik ke sana lagi. Emas dan perak cetak rekor tertinggi (ATH), nikel rebound,” katanya.
Kemudian, pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tahun 2026 akan menjadi fase krusial bagi pasar dan perekonomian nasional.
“2026 merupakan era pembuktian. Pembuktian dari kinerja pemerintahan baru, di bawah Menteri Keuangan yang baru, yang memiliki kebijakan tepat sasaran menuju sektor ekonomi bawah,” kata Michael, pada 24 Desember 2025.
Dalam konteks tersebut, ia menilai investor perlu mulai mencermati sektor-sektor yang sebelumnya tertinggal. “Maka kita perlu memperhatikan sektor yang kemarin tertinggal, yaitu banking serta consumer goods,” ujarnya. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.




