OJK Evaluasi Kinerja BEI Tahun 2025, Salah Satunya Indeks LQ45 Tertinggal

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti sejumlah catatan evaluasi terhadap kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2025. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan, kinerja saham-saham utama yang menjadi acuan investasi global justru belum sejalan. Indeks LQ45 hanya tumbuh 2,41 persen, jauh tertinggal dibandingkan kenaikan IHSG.

"Kita juga melihat bahwa masih banyak ruang perbaikan yang harus dilakukan. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41 persen jauh di bawah kenaikan IHSG," ujar Mahendra ketika pembukaan perdagangan BEI tahun 2026 di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/1).

Selain kinerja indeks, OJK juga mengevaluasi kedalaman pasar modal Indonesia. Mahendra mencatat kontribusi pasar saham terhadap produk domestik bruto (PDB) memang naik menjadi 72 persen pada akhir 2025, dari 56 persen pada akhir 2024. Namun, rasio tersebut masih tertinggal dibandingkan bursa di negara kawasan. India mencatat kapitalisasi pasar saham setara 140 persen dari PDB, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen.

"Sekalipun demikian, angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita. Seperti India 140 persen, Thailand 101 persen, dan Malaysia 97 persen dari PDB mereka masing-masing. Yang artinya, potensi pengembangan masih lebih besar lagi," ujar Mahendra.

Evaluasi OJK terhadap BEI juga mencakup struktur pelaku pasar. Porsi transaksi investor ritel melonjak tajam dari 38 persen pada akhir 2024 menjadi sekitar 50 persen berdasarkan data terbaru. Angka ini dinilai tidak lazim jika dibandingkan dengan bursa negara lain yang didominasi investor institusional.

“Dan proporsi ini sangat besar dibandingkan negara-negara lainnya yang lebih mengandalkan investor institutional, dalam maupun luar negeri,” kata Mahendra.

Menurut Mahendra, dominasi investor ritel memperbesar urgensi penguatan pengawasan dan perlindungan pasar. Risiko praktik goreng saham, transaksi tidak wajar, hingga berbagai bentuk manipulasi dinilai perlu diantisipasi lebih ketat.

"Artinya semakin meningkatkan urgency penguatan aspek pelindungan termasuk melindungi investor retail dari praktik kemungkinan goreng-menggoreng saham, transaksi tidak wajar, serta kemungkinan bentuk manipulasi lainnya," ucap ia.

Mahendra juga meminta BEI memperkuat literasi dan edukasi pasar modal secara lebih terarah. Ini penting mengingat lebih dari 70 persen investor ritel di Indonesia berasal dari generasi Y dan Z.

"Sehingga investor retail kita, yang lebih 70 persen di antaranya adalah Gen Y dan Gen Z, tidak melihat pasar saham sebagai transaksi perdagangan harian yang semata-mata mengejar kekayaan dalam jangka pendek. Justru menjadikannya salah satu sumber pendanaan untuk jangka menengah dan panjang dalam meningkatkan kesejahteraan keuangan mereka," imbuhnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tolak Tegas Comeback ke V-League, Media Korea Sentil Ledakan Popularitas Megawati Hangestri saat Bela Red Sparks
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Pergantian Tahun 2026 Tanpa Gangguan, PLN Buktikan Keandalan Sistem Kelistrikan
• 19 jam lalumedcom.id
thumb
Pemkot Manado Siapkan Bantuan Bagi Korban Kebakaran Panti Werdha
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Super League: Persija Tetap Berlatih di Tengah Libur Tahun Baru demi Persiapan Hadapi Persijap
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Anrez Adelio Dipolisikan Terkait Dugaan Kekerasan Seksual, Terancam 12 Tahun Penjara
• 21 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.