Mengurus anak memang bukan perkara mudah. Lalu, bagaimana jika orang tua memiliki anak dengan jarak usia berdekatan? Apakah terasa lebih praktis karena fase pengasuhan dijalani sekaligus, atau justru menghadirkan tantangan baru di rumah?
Dikutip dari laman The Bump, memiliki anak dengan jarak usia berdekatan tidak selalu identik dengan hal negatif. Ya Moms, ternyata ada sisi positif yang bisa dirasakan, baik oleh orang tua maupun anak. Berikut beberapa plus minus memiliki anak dengan jarak usia berdekatan.
Kelebihan Punya Anak dengan Jarak Usia Berdekatan1. Punya teman bermain seumur hidup
Dengan jarak usia yang dekat, anak otomatis memiliki teman bermain di rumah. Kehadiran kakak dan adik membuat mereka tidak mudah merasa kesepian dan terbiasa berinteraksi sejak dini, Moms.
2. Melewati fase milestone bersama
Perbedaan usia yang tipis membuat anak-anak melewati fase tumbuh kembang atau milestone hampir bersamaan. Hal ini kerap memudahkan orang tua karena fase pengasuhan tidak terpaut terlalu jauh.
3. Pengasuhan terasa lebih efisien
Meski terasa melelahkan di awal, banyak orang tua menilai pengasuhan anak dengan jarak usia berdekatan menjadi lebih efisien karena tidak perlu mengulang fase bayi atau balita dalam rentang waktu yang berjauhan.
4. Terbiasa memiliki saudara sejak dini
Anak dengan jarak usia yang dekat biasanya lebih mudah menerima kehadiran adik, karena belum terlalu lama merasakan perhatian penuh sebagai anak tunggal.
Tantangan Punya Anak dengan Jarak Usia BerdekatanDi sisi lain, ada pula beberapa tantangan yang bisa dirasakan orang tua yang memiliki anak dengan jarak usia berdekatan, di antaranya:
1. Dua anak kecil di fase yang sama
Mengasuh dua anak yang sama-sama masih kecil dapat memicu kelelahan fisik dan emosional pada orang tua. Energi dan kesabaran pun benar-benar diuji.
2. Waktu satu-satu dengan orang tua lebih terbatas
Anak yang lebih besar bisa merasa kehilangan perhatian individual. Menurut The Bump, kemampuan orang tua untuk membagi ketersediaan emosional menjadi semakin menantang ketika anak-anak berada di fase yang sama dan sama-sama membutuhkan pendampingan.
3. Potensi sibling rivalry sejak dini
Karena berada di tahap perkembangan yang serupa, anak-anak sedang sama-sama membutuhkan perhatian orang tua. Kondisi ini membuat potensi sibling rivalry lebih mungkin terjadi, terutama pada balita yang masih belajar mengelola emosi.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5441634/original/034864300_1765513701-1000646600.jpg)

