EtIndonesia. Dalam perjalanan hidup, ada hari-hari cerah, tetapi juga akan datang hari mendung, hujan, bahkan salju. Di jalan kehidupan, ada dataran yang lapang dan mulus, namun ada pula saat kita tiba di dermaga tanpa perahu, di tepi sungai tanpa jembatan.
Kegelisahan dan kesedihan kerap datang seperti hujan badai di musim panas—tiba-tiba melanda. Kegagalan dan penderitaan sering menerjang tanpa peringatan; bahkan sebelum sempat menarik napas panjang, kita sudah terhempas jatuh.
Terjatuh di tepi kegagalan, di tepi penderitaan—di sekeliling hanya kegelapan tanpa batas. Tak ada cahaya, tak ada bintang, bahkan tak ada tanda kehidupan. Rasa takut dan putus asa menjulur dari kegelapan, mencengkeram rapat kehidupan yang rapuh.
Ada orang yang jatuh di tepi itu dan tak pernah bangkit lagi. Ada pula yang, di tengah gelap, melipat sebuah perahu untuk dirinya sendiri, lalu menyeberangkan diri ke seberang.
Pada usia 20 tahun, Shi Tiesheng mendadak kehilangan fungsi kedua kakinya. Dia pun melipat sebuah perahu untuk dirinya—perahu bernama “menulis”. Dengan keyakinan bahwa “kematian bukanlah sesuatu yang perlu diburu; dia adalah sesuatu yang tak akan terlewatkan betapapun ditunda”, dia—dari atas kursi roda—melipat perahu itu, menyeberangkan dirinya keluar dari godaan kematian, dan berkata pada diri sendiri: “Cobalah hidup.”
Ketika sedang menempuh studi doktoral, Stephen Hawking didiagnosis penyakit neuron motorik—tak bisa berbicara, tak bisa bergerak. Dia pernah bermimpi dirinya akan dieksekusi. Saat terbangun, dalam kehampaan yang nyaris total, dia tersadar: jika dia “diampuni”, masih ada begitu banyak hal bernilai yang bisa dia lakukan. Maka dia melipat perahu pemikiran, berlayar ke semesta yang misterius—menyelami galaksi, lubang hitam, quark, partikel “beraroma”, partikel “berputar”, dan panah waktu.
Perahu-perahu yang dilipat tergesa di tepi penderitaan itu, pada akhirnya menjadi jalan penebusan dari nasib yang getir.
Mungkin kita tak akan mengalami bencana sebesar itu. Namun bukankah kita tak pernah benar-benar lepas dari hari mendung, hujan, salju—dari lilitan keputusasaan? Adegan yang menggerogoti hidup sering kali tiba-tiba berdiri menghadang di depan kita.
Ketika kita memahami bahwa penderitaan adalah keadaan normal kehidupan—bahwa kegelisahan dan sakit adalah sahabat setia perjalanan—mengapa kita harus mengasihani diri, menyerah terlalu dini, dan berputus asa terlalu cepat?
Ada yang melipat naluri bertahan hidup menjadi perahu, lalu menyeberang keluar dari jurang putus asa. Ada yang melipat hasrat baru menjadi perahu, lalu melewati sakit dan lesu pasca-gagal. Ada yang melipat harapan menjadi perahu, berlayar menembus lapis demi lapis kegelapan.
Dan bagi mereka yang benar-benar merasa tak punya perahu, bahkan melipat perahu dari imajinasi pun bisa—asal dengan segenap tenaga menyeberangkan diri ke seberang.
Mungkin kita belum merasakan perihnya patah hati, belum merasakan hantaman kegagalan besar, belum sampai pada putus asa tanpa jalan keluar. Namun di hari cerah sekalipun, angin muram dan hujan kelabu kerap menyelinap. Dia seperti gagak yang mengepakkan sayap di sekitar kita, mengacak-acak suasana hati yang semula baik. Pada saat-saat seperti itu, kita pun tetap membutuhkan sebuah perahu untuk menyeberangkan diri.
Perahu itu bisa berupa mendengarkan konser, membuka sebuah buku, mengirim email kepada teman dunia maya yang belum pernah kita jumpai, atau memanggul ransel dan pergi sejenak.
Karena apa pun gelapnya nasib, betapa pun seringnya hidup tersandung, selalu ada perahu penyeberangan—dan sering kali, perahu itu berada di tangan kita sendiri.(jhn/yn)




