EtIndonesia. Coba perhatikan lomba lari jarak jauh di lintasan atletik. Dari sana, kita bisa memetik banyak pelajaran tentang cara menjalani hidup. Saat lomba dimulai, semua pelari berangkat bersamaan—sulit membedakan siapa yang lebih unggul. Namun ketika lomba memasuki pertengahan, para pelari biasanya mulai mengikuti satu lawan tertentu, lalu pada saat yang tepat mempercepat langkah untuk menyalipnya. Setelah itu, mereka kembali mengikuti lawan lain, menunggu momen yang pas, lalu menyalip lagi—hingga akhirnya berlari menuju garis finis.
Lari jarak jauh—terutama maraton—bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan mental. Bahkan, daya tahan mental sering kali lebih menentukan. Ada pelari yang sebenarnya masih kuat secara fisik, tetapi mundur karena mentalnya goyah. Ada pula yang semula memimpin, namun tanpa sadar melambat dan akhirnya disusul pelari di belakang.
Mengikuti satu lawan membantu mencegah hal itu. Lawan menjadi pengingat dan pendorong: Jangan melambat! Tapi juga jangan terlalu cepat, agar tenaga tidak habis lebih awal! Selain itu, mengikuti lawan mengurangi rasa sepi dalam lomba.
Jika Anda mengamati lomba maraton, Anda akan melihat pola ini: mula-mula terbentuk kelompok-kelompok kecil, lalu terpecah menjadi dua atau tiga orang, dan setelah melewati titik tengah barulah muncul pelari-pelari yang memimpin sendirian.
Sebenarnya, hidup pun adalah sebuah lari jarak jauh. Jika demikian, mengapa kita tidak meniru cara para pelari itu—mencari seseorang untuk diikuti, menjadikannya target untuk dikejar dan dilampaui?
Tentu saja, “lawan” yang kita pilih harus memenuhi syarat tertentu, bukan dipilih sembarangan.
Pilihlah rekan kerja atau teman belajar di sekitar Anda. Target yang Anda pilih sebaiknya lebih unggul—baik dari segi kemampuan maupun pencapaian. Dengan kata lain, dia harus “berlari” di depan Anda, namun tidak terlalu jauh. Jika jaraknya terlalu jauh, Anda mungkin sulit menyusul; sekalipun bisa, akan memakan waktu lama dan tenaga besar, membuat perjalanan terasa berat dan penuh frustrasi.
Setelah menemukan “lawan”, lakukan analisis menyeluruh:
– Di mana keunggulannya?
– Bagaimana dia meraih prestasi itu?
– Bagaimana caranya bekerja, membangun relasi, dan mengembangkan diri?
Dari sana, Anda bisa meniru metodenya, atau menemukan cara Anda sendiri untuk berusaha. Perlahan tapi pasti, Anda akan menyamai langkahnya—bahkan melampauinya.
Setelah berhasil melampaui “lawan” yang satu, carilah “lawan” berikutnya untuk diikuti dan dilampaui lagi. Jika proses ini dilakukan terus-menerus, Anda akan semakin unggul. Kalaupun tidak menjadi juara, setidaknya Anda tidak tertinggal jauh.
Namun ada satu fakta yang perlu disadari: Dalam lomba lari, mengikuti lawan tidak selalu berarti Anda pasti bisa menyalipnya. Bisa saja, saat Anda baru berhasil mendekat, dia menyadari kehadiran Anda lalu mempercepat langkah dan meninggalkan Anda jauh di belakang.
Dalam hidup pun demikian.
Ketika menghadapi situasi seperti ini, jangan berkecil hati. Jika masih mampu mengikuti, ikutilah. Jika tidak, mungkin itu memang batas kondisi pribadi. Memaksakan diri hanya akan menguras tenaga lebih cepat. Apakah itu berarti usaha Anda sia-sia?
Tidak!
Karena tekad dan kerja keras untuk “mengikuti” lawan telah memicu potensi dan semangat dalam diri Anda. Selama proses itu, Anda berkembang lebih cepat dan lebih jauh dibandingkan saat berlari sendirian tanpa target. Mental Anda terasah, kemampuan Anda teruji—dan itu adalah modal berharga seumur hidup.
Ada pula kemungkinan lain: Anda sudah menemukan lawan, tetapi tetap tak mampu mendekat, bahkan satu per satu orang di belakang justru menyalip Anda. Itu memang terasa memalukan. Namun di sinilah jiwa sportivitas harus berbicara.
Dalam perlombaan, proses lebih penting daripada peringkat. Dalam hidup pun sama—usaha lebih bermakna daripada hasil. Selama Anda benar-benar telah berjuang dengan sepenuh tenaga, itu sudah cukup.
Yang paling menyedihkan bukanlah kalah, melainkan menyerah di tengah jalan dan kehilangan keberanian untuk terus melangkah.





