JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik hiruk-pikuk lalu lintas dan denyut ekonomi Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, deru mesin jahit manual masih terdengar pelan namun konsisten.
Di ruang sempit di tepi jalan, di bawah payung lusuh yang hanya memberi perlindungan seadanya dari panas dan hujan, para tukang jahit keliling menggantungkan hidup pada benang, kain, dan pelanggan yang datang tak menentu.
Penghasilan yang naik turun, persaingan yang kian ketat, serta ancaman penertiban menjadi keseharian yang harus dihadapi para penjahit keliling.
Baca juga: Terbengkalai sejak 2007, Kenapa Menara Saidah Tak Dirobohkan?
Namun, keterbatasan tersebut tidak sepenuhnya memadamkan harapan mereka untuk terus bertahan di Ibu Kota.
Penghasilan yang Tidak Pernah PastiAgus (45), penjahit keliling yang mangkal di sekitar Pasar Lenteng Agung, telah lebih dari 12 tahun menekuni pekerjaannya tersebut.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=tukang jahit, penjahit, penjahit keliling, tukang jahit keliling, indepth&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wMi8xNjM3NDQyMS9kaS1sZW50ZW5nLWFndW5nLXBlbmphaGl0LWtlbGlsaW5nLXRlcnVzLW1lcmFqdXQtYXNhLW1lc2tpLXBlbmdoYXNpbGFu&q=Di Lenteng Agung, Penjahit Keliling Terus Merajut Asa meski Penghasilan Tak Menentu§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Ia datang dari Garut, Jawa Barat, dengan satu bekal utama, yakni keahlian menjahit yang dipelajarinya secara otodidak.
“Saya enggak punya modal besar buat buka toko. Jadi pilih keliling saja, pakai mesin jahit manual,” ujar Agus kepada Kompas.com saat ditemui di Jalan Jagakarsa, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025).
Sebagian besar pekerjaan yang diterimanya berupa permak pakaian, di antaranya memotong celana, mengecilkan baju, atau mengganti resleting, bukan menjahit pakaian dari awal.
Menurut Agus, keterbatasan ruang dan peralatan membuat jasa jahit keliling sulit menerima pesanan yang lebih kompleks.
“Kalau bikin baju baru jarang. Kebanyakan orang minta dipotong, dikecilin, atau ganti resleting. Kalau dari awal biasanya enggak sanggup,” kata dia.
Tarif yang dipatok Agus relatif rendah. Permak celana dihargai Rp 25.000 hingga Rp 40.000, sedangkan potong celana sederhana sekitar Rp 15.000.
Harga itu, kata Agus, disesuaikan dengan kondisi pelanggan dan persaingan antartukang jahit yang kian padat.
Baca juga: Cegah Pungli dan Joki Jalanan di Jalur Puncak, Polisi Rekrut Warga Lokal Jadi Supeltas
“Kalau mahal, orang enggak mau. Kita saingannya banyak,” ujarnya.
Dalam sehari, penghasilan Agus tidak pernah bisa dipastikan. Ada hari-hari sepi tanpa satu pun pelanggan.
“Sekarang orang banyak beli baju jadi. Kalau rusak dikit, mending beli baru,” ucapnya menggambarkan perubahan pola konsumsi yang turut menekan pendapatan penjahit keliling.
Meski demikian, Agus tetap bertahan karena pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber nafkah bagi keluarganya di kampung halaman.
“Setiap bulan saya kirim uang ke istri dan anak. Walaupun enggak tentu, tapi ini yang bisa saya lakukan,” kata dia.
Bertahan di Ruang Sempit Pinggir JalanPantauan Kompas.com di Jalan Jagakarsa, Pasar Lenteng Agung, menunjukkan aktivitas tukang jahit keliling yang berlangsung di ruang publik serba terbatas.
Mesin jahit tua diletakkan di atas gerobak kayu atau meja sederhana, berdampingan dengan kotak berisi gunting, benang, dan meteran.
Baca juga: Jatuh Bangun Mata Elang Bertahan Demi Keluarga di Tengah Stigma Buruk
Di bawah payung berwarna merah dan biru, seorang tukang jahit tampak serius mengarahkan kain ke jarum mesin.





