FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Chati Basri menanggapi kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Terkait penarikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp75 triliun.
“Ada limitasi dalam kebijakan moneter. Issue kita di sisi demand,” kata Chatib dikutip dari unggahannya di X, uat (2/1/2025).
Dia mengatakan demand memang mesti didorong melalui kebijakan fiskal. Seperti yang dilakukan Purbaya.
“Itu sebabnya dalam jangka pendek demand harus di dorong lewat fiskal, baru setelah itu kebijakan moneter mendukung,” terangnya.
Hal tersebut, kata dia, sejalan dengan penelitiannya.
“Langkah ini sejalan dengan studi saya dan @synamira di bawah ini,” terangnya.
Penelitiannya terbit dalam jurnal terkenal, Taylor Francis. Di terbit pada tahun 2022.
“Sebenarnya ini tidak mengejutkan. Study saya bersama Namira
@synamira tahun 2022 lalu,” ujarnya.
Penelitian itu menunjukkan di Indonesia investasi dipengaruhi oeh konsumsi masyarakat. Bukan sebaliknya,
“Bahwa dalam kasus Indonesia, investasi lebih kuat dipengaruhi oleh konsumsi (permintaan) dan bukan sebaliknya,” terangnya.
“Walau likuiditas longgar, atau bunga rendah, kalau permintaan rendah, kredit tidak mengalir,” tambahya.
Dia mengambil contoh saat masa Covid 19. Pertumbuhan kredit rendah.
“Dalam masa covid, pertumbuhan kredit rendah sekali meski bunga rendah. Bagi mahasiswa yang tertarik bisa lihat buku ini, bebas akses, ini link nya,” pungkasnya.
(Arya/Fajar)





