Bagi banyak orang, perselingkuhan adalah bentuk pengkhianatan terbesar dalam sebuah hubungan. Janji yang seharusnya menjadi fondasi runtuh dalam satu keputusan. Luka yang muncul bukan hanya soal dikhianati, tapi juga rasa kehilangan arah, harus mulai dari mana, harus percaya pada siapa, dan apakah hubungan ini masih bisa diselamatkan.
Hal yang membuatnya semakin menyakitkan, perselingkuhan jarang benar-benar selesai hanya dengan kata “maaf”. Ia kerap bersembunyi, lalu muncul kembali saat konflik kecil terjadi. Lupa hari penting, lupa memberi kabar, atau perubahan sikap sederhana bisa kembali membuka luka lama yang diakibatkan oleh perselingkuhan. Bukan karena kita ingin mengungkit, tapi karena luka itu belum benar-benar dipahami.
Selama ini, kita sering mengira bahwa perselingkuhan terjadi karena satu hal sederhana, hubungan yang tidak bahagia, kurang puas secara seksual, ingin balas dendam, atau sekadar tergoda. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks. Perselingkuhan bukan hanya tentang apa yang terjadi di luar hubungan, melainkan tentang apa yang terjadi di dalam diri seseorang.
Psikoterapis dan pakar hubungan asal Belgia-Amerika, Esther Perel, menjelaskan bahwa perselingkuhan kerap berhubungan dengan krisis identitas dan relasi dengan diri sendiri. Ia mengatakan, “Perselingkuhan tidak selalu tentang mencari orang lain, tetapi tentang mencari versi diri yang hilang”.
Dengan kata lain, tindakan selingkuh sering menjadi cara seseorang melarikan diri dari rasa tidak aman, ketakutan akan kedekatan, atau kebutuhan akan validasi yang tak pernah terpenuhi. Dalam kondisi ini, selingkuh menjadi bentuk coping, dan di sinilah letak persoalan terbesarnya.
Kita tidak bisa mengubah kebiasaan orang selingkuh karena akar masalahnya bukan ada pada kita, bahkan sering kali bukan sepenuhnya pada hubungan. Selama seseorang belum berdamai dengan dirinya sendiri, belum memahami lukanya, dan belum bertanggung jawab atas kekosongan yang ia rasakan, pola itu akan terus berulang, dengan siapa pun pasangannya.
Sayangnya, banyak orang yang diselingkuhi justru mengikat kejadian ini pada harga diri mereka sendiri. Merasa tidak cukup menarik, tidak cukup baik, atau tidak cukup dicintai. Padahal, memahami bahwa perselingkuhan adalah konflik internal pelaku bisa membantu kita mengambil jarak emosional dari rasa bersalah yang tidak seharusnya kita pikul.
Melihat perselingkuhan dari sudut pandang ini bukan berarti memaklumi perselingkuhan. Rasa empati memang bukan pengampunan otomatis. Namun, dengan memahami bahwa kita tidak bisa ‘memperbaiki’ atau ‘menyelamatkan’ seseorang yang belum mau berubah, kita jadi bisa mengambil kembali kendali atas diri sendiri.





