Jakarta, IDN Times - Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan, ada 12 dari 18 kabupaten di Aceh yang mengalami gangguan layanan air bersih usai dihantam banjir dan tanah longsor. Itu sebabnya pembuatan sumur air menjadi kebutuhan mendesak bagi warga Aceh.
"Yang terdampak tidak hanya jaringan pipa, tetapi di beberapa titik sumber airnya juga terdampak. Sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa recovery 100 persen. Maka, penggantian pipa terus dilakukan," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, ketika memberikan keterangan pers secara daring, Jumat (2/1/2026).
Ia mengatakan, sejumlah elemen turun tangan untuk membuat sumur bor di sejumlah titik. Pengeboran sebanyak 10 titik di Aceh Utara dilakukan oleh BNPB dan TNI Angkatan Darat (AD).
"Pengobaran di Aceh Tamiang di 24 titik dan saat ini pengeboran dikerjakan di 6 titik," tutur dia.
Lalu, Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad) ikut melakukan pengeboran di 6 titik di Kabupaten Aceh Tamiang. Polri melakukan pengeboran untuk sumur air di 146 titik dan sifatnya siap pakai.
Kodam Iskandar Muda (IM) juga melakukan pengeboran sumur bor sebanyak 121 titik. Sebanyak 69 sumur bor di antaranya sudah selesai.
"(Sebanyak) 121 titik sumur bor yang dikerjakan oleh Kodam Iskandar Muda meliputi Aceh Tamiang 80 titik; Aceh Utara 21 titik; Bireuen 6 titik; Bener Meriah 5 titik; Pidie Jaya 3 titik, dan Aceh Timur 3 titik," katanya.
Sebelumnya, soal keberadaan layanan air bersih di lokasi bencana turut menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan, dibutuhkan biaya sekitar Rp100 juta hingga Rp150 juta untuk tiap pembangunan sumur bor.
"Sumur bor ada dua, yang dangkal untuk pembersihan dan sumur bor dalam untuk konsumsi air bersih," katanya.
Selain mengandalkan sumber air bersih dari pengeboran sumur, BNPB juga menyediakan mobil tangki dan hydran torent.




