Cerita Pedagang Kopi Starling, Belasan Tahun Mengayuh Rezeki di Ibu Kota

kumparan.com
2 hari lalu
Cover Berita

Gerimis tak menyurutkan semangat Uyu (56 tahun) untuk tetap mengayuh sepedanya yang memuat aneka minuman dan kopi kemasan. Saban hari, dalam hidupnya selama 13 tahun terakhir, Uyu melakoni pekerjaan sebagai pedagang kopi keliling, atau yang akrab dikenal sebagai kopi starling.

Sehari-hari, kakek asal Tasikmalaya, Jawa Barat, ini berkeliling di sekitar pusat kota Jakarta. Melewati kawasan elite Menteng, Jalan Sudirman, hingga sekitaran Stasiun Dukuh Atas.

“Kadang-kadang (yang beli) sopir taksi, banyak juga security gitu. Kadang-kadang tukang kebun, kalau ada proyek (yang beli) orang-orang proyek juga,” cerita Uyu saat kumparan temui sedang melewati kawasan Menteng.

Sehari-hari, Uyu mulai mengebut sepedanya pukul 6.30 WIB. Bila hari itu banyak yang memesan kopi, ia setidaknya bisa membawa pulang Rp 100 ribu. Namun jika hujan seperti sekarang, penghasilannya bisa jauh lebih sedikit.

"Kadang-kadang kurang, kadang-kadang lebih lah. Enggak tentu, namanya juga dagang," sambungnya.

Tak banyak pilihan. Itulah alasan Uyu bertahan menjadi pedagang kopi starling. Selagi masih kuat, ia tetap bertahan. Opsi lain yang tersedia untuk orang seumur dia, hanya pulang kampung dan menjadi petani.

"Ntar kalau udah enggak kuat, paling pulang kampung. Tani gitu di kampung," tuturnya.

Uyu akan pulang menemui keluarganya tiap satu atau dua bulan. Tergantung pada besaran pendapatan yang sudah berhasil ia simpan untuk bawa pulang.

Di lain tempat, kumparan juga menemui Matsidi (44 tahun), pedagang kopi starling lainnya. Tak selama Uyu, Matsidi baru banting setir sejak 2019. Meninggalkan Madura sejak 2015, ia tadinya sempat mencoba peruntungan lain, bekerja kantoran dan juga membuka warung makan.

“Kalau kerja sama orang itu ribet. Kalau jual kopi mau kerja ya udah, enggak kerja ya udah, yang penting mau cari duit,” ujarnya ditemui di kawasan Dukuh Atas.

Matsidi mengaku penghasilannya tak menentu. Apalagi di musim hujan yang bahkan terkadang hanya cukup untuk makan. Ia menyisati agar bisa menyisihkan uang dengan cara ikut arisan. Arisan yang ia ikuti ini hanya diisi oleh para pedagang.

"Iya biar lebih semangat, kita kan punya tanggungan. Anak mau lanjut ke pondok (pesantren)," tuturnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Video: Ramal Gerak Pasar Saham 2026, Sentimen Ini Patut Diwaspadai
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kuasa Hukum Pastikan Nadiem Makarim Hadiri Sidang Dakwaan Kasus Korupsi Chromebook
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Di Aceh, Harga Cabai Merah masih Rendah Akibat Akses Jalan Belum Normal
• 9 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Sederet Respons Internasional soal AS Tangkap Presiden Venezuela
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Jadwal Persik vs Persib Hari Ini: Misi Maung Bandung Hapus Kutukan Brawijaya
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.